Penjelasan Kemenhub Tentang Kecelakaan Pesawat Merpati di Kaimana

Jakarta - Kemenhub merangkai peristiwa sebelum pesawat jenis MA 60 milik Merpati jatuh di perairan Kaimana, Papua Barat. Pesawat Merpati buatan Cina tersebut dilaporkan pecah saat mendarat di perairan Kaimana.

Kecelakaan berawal dari buruknya cuaca di sekitar landasan di Kaimana. Hujan deras dan angin kencang membuat pandangan pilot kurang maksimal saat hendak mendarat. Menunggu cuaca baik, pesawat berputar terlebih dahulu di atas landasan.

"Biasanya ada flight plan mengenai cuaca hujan dan terbang visual karena peraturan hanya satu NDP saja. Saya terima laporan dari kepala bandara tadi dia sudah komunikasi mau putar masuk landasan 01 jadi dalam hal ini karena cuaca jelek dia harus clear landasan dulu, kalau kelihatan baru bisa turun," beber Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Perhubungan di Jakarta, Sabtu (7/5/2011).

Pilot pesawat MA 60 diduga tak melihat dengan jelas landasan. Berputar-putar terlalu lama, mesin pesawat pun mulai panas. Kondisi overheat diduga memaksa pilot untuk mengambil tindakan cepat.

"Pilotnya harus memutar visual karena landasan melalui gunung dia berputar disitu sambil melihat landasan dengan kondisi hujan proses turunnya kita yang belum tahu apa melihat secara clear landasan atau tidak karena kondisi hujan mungkin gambarannya kalau ketemu black box-nya bisa kita lihat," tuturnya.

Mendaratkan pesawat di laut adalah salah satu opsinya. Sayangnya, berdasarkan laporan yang diperoleh Kemenhub, pesawat terlalu kencang menghantam perairan Kaimana yang cukup dalam.

"Mendarat di laut itu ada dua jenisnya kalau dia bagus tidak akan pecah, tapi katanya sewaktu landing pesawat pecah dan lautnya cukup dalam itu langsung tenggelam ke dalam laut karena pecah. Kalau ada yang belum ketemu mungkin dia masih di pesawat karena dia masih mengenakan seatbelt. Termasuk kaptennya," jelasnya.

Pesawat yang jatuh tersebut bertipe MA 60 dengan serial number 2807. Pesawat dibuat tahun 2010. Jam terbang pesawat ini baru 615 jam dan total pendaratan 764 cycle.

"Memang produksi Cina dan pesawat ini setelah diproduksi cukup banyak juga dan dioperasikan di Indonesia, Cina, Myanmar, Kirzigstan, Zambia, Laos dan Filipina. Di Indonesia ada 13 pesawat dan kemungkinan Merpati akan menambah jadi 15 pesawat karena dua masih di Cina. Untuk menambah operasi Merpati. Tentu akan kita evaluasi supaya kejadian ini tidak terulang lagi," tegasnya. (van/van)
Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Penjelasan Kemenhub Tentang Kecelakaan Pesawat Merpati di Kaimana