Catatan Kekerasan Di Tanah Papua

 Catatan Hitam dari Negeri Mutiara Hitam

Sejumlah peristiwa penembakan yang terjadi di Tanah Papua sepanjang Tahun 2011 yang saya himpun dari berbagai sumber media massa. Disebut �catatan hitam� karena peristiwa yang dibukukan adalah aksi kekerasan yang tak jarang aksi-aksi itu memakan korban jiwa, baik warga sipil maupun aparat keamanan yang sedang bertugas di wilayah ini. Sebagian besar kasus, korban tewas akibat tembakan oleh orang tidak dikenal (OTK). Mudah-mudahan tak ada peristiwa yang terlewatkan :
1. Pada tanggal 13 April 2011, terjadi penembakan 5 orang warga sipil di Dogiyai Papua. Dalam peristiwa ini, dua orang menjadi korban tewas yakni Dominikus Auwe dan Aloysius Waine. Sedangkan tiga korban lainnya menderita luka-luka yaitu Vince Yobee, Albertus Pigai, dan Matias Iyai.
2. Tanggal 14 Mei, aksi kekerasan terjadi di Pelabuhan Laut Nabire. Korban tewas yang diketahui bernama Derek Adii diduga dianiaya oleh oknum anggota TNI. Namun siapa pelaku sebenarnya hingga kini masih simpang siur.
3. Di bulan yang sama yakni 28 Mei, Sertu Kamaruzaman dari Kopassus menjadi korban penembakan di Distrik Ilu, Puncak Jaya. Kamaruzaman didatangi tiga orang bersenjata yang diduga OPM melakukan penyerangan mengakibatkan telinga kirinya terluka.
1325531858294113625 4. Pada 5 Juli, Pratu Kadek Widana dari Yonif 751/BS tertembak saat melakukan patroli di kawasan Puncak Jaya, Papua. Akibat insiden penembakan itu, tangan kanannya tertembus peluru.
5. Tanggal 11 Juli, kembali terjadi penembakan di areal PT Freeport Indonesia yang menewaskan seorang berkebangsaan Australia, Drew Nicholas Grant, dan Bripda Marson Freddy, anggota provost Polda Papua yang tengah mengawal mobil Freeport. TKP berada di di Mile-53 dan di mile 51, Tembagapura, Timika, Papua.
6. Tanggal 12 Juli terjadi dua peristiwa penembakan, yaitu di Mile-51, Timika. Korban merupakan security PT Freeport Indonesia Markus Rante Allo. Peristiwa kedua terjadi di Puncak Jaya, korbannya bernama Pratu Herber yang tengah melakukan patroli keamanan di Puncak Senyum, Puncak Jaya. Ia diserang OTK dan mengalami luka di tangan kanannya hingga tiga jarinya patah.
7. Tanggal 30 Juli-1 Agustus terjadi bentrokan antara warga di Ilaga, Kabupaten Puncak, yang menyebabkan korban tewas 21 orang. Insiden ini dipicu ketidakpuasan atas penyelenggaran pilkada di wilayah itu.
8. Pada 1 Agustus, terjadi serangan yang dilakukan OPM di Tanjakan Gunung Merah, Papua. Akibat serangan itu empat orang tewas, dua luka berat, dan dua luka ringan.
9. Pada 3 Agustus, terjadi penembakan terhadap Helikopter Mi-17 milik Kodam XVII/Cenderawasih. Sejumlah OTK memberondong helikopter itu ketika sedang mengudara di wilayah Puncak Senyum, Kabupaten Puncak Jaya, Papua. Seorang prajurit TNI-AD, anggota Yonif 753 Arga Vira Tama, Nabire, Pratu Fana S. Hadi tewas dalam insiden itu.
10. Peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 2011 di Papua juga diwarnai aksi kekeasan berupa perampasan senjata milik aparat keamanan di Komopa, Paniai pada 16 Agustus dan penembakan di Enarotali saat peringatan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus. Tidak korban jiwa dalam kedua insiden tersebut.
132553271980213359 11. Tgl 23 Agustus, terjadi penyerangan terhadap anggota Kodam Cenderawasih. Kapten (inf) Tasman tewas dengan kondisi mengenaskan, yakni leher belakang ditebas dengan parang. Dia dibantai usai mengatar istrinya ke sekolah untuk mengajar.
12. Pada 10 Oktober, terjadi bentrokan antara massa pekerja dengan aparat keamanan di area pertambangan Freeport, Timika. Bentrokan ini muncul karena tambang di Tembagapura masih beroperasi di saat ribuan pekerja sedang melakukan mogok karena menuntut kesejahteraan lebih baik. Unjuk rasa yang dilakukan oleh sekira 2.000 orang dari tujuh suku dan pekerja PT Freeport Indonesia mengakibatkan 2 warga tewas tertembak, 7 polisi terluka terkena lemparan batu, dan 3 kendaraan operasional PT Freeport hangus dibakar massa.
13. Tanggal 14 Oktober terjadi aksi penembakan di di ruas jalan Tanggul Timur tepatnya di Mil 37 pada yang menewaskan tiga pekerja PT Puri Fajar Mandiri yaitu Yana Heryana, Iip Abdul Rohman dan Deden. Pada hari yang sama juga terjadi penembakan di Mil 40 dan Mil 38 yang mengakibatkan dua pendulang tradisional dan seorang karyawan PT Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI) tewas.
14. Tanggal 18 Oktober terjadi penembakan oleh OTK terhadap seorang tukang ojek bernama  Abdul Kholik di wilayah Puncak Jaya, yang menyebabkan korban tewas. Korban asal Probolinggo itu habis mengantar penumpangnya dengan motor jenis Yamaha Jupiter bernomor polisi DS 2216 PJ dari Kota Lama ke kampung Purleme, Mulia.
15. Tanggal 19 Oktober patut dicatat dalam sejarah, karena pada hari itu Forkorus Yaboisembut mendeklarasikan Negara Papua Barat dalam Kongres Rakyat Papua III yang digelar di Lapangan Sepak Bola Zakheus, Abepura. Kali ini aparat dari TNI dan gabungan kepolisian membubarkan paksa kongres tersebut. Kongres itu dinilai sebagai maker, dan karenanya sekira 200 peserta ditangkap. Menurut data dari Asosiasi Mahasiswa Pengunungan Tengah Papua Indonesia (AMPTPI) Papua, dalam aksi pembubaran paksa itu, terdapat enam warga meninggal dunia akibat luka tembak, dan 17 orang lainnya dikhabarkan hilang atau belum kembali ke rumahnya masing-masing.
16. Tanggal 21 Oktober, terjadi penembakan oleh gerombolan bersenjata di Mil 39 ruas Timika menuju Tembagapura, Papua. Penembakan ini menyebabkan 3 orang tewas, yaitu Albertus Laitawono (29) dan Yunus (25) yang bekerja sebagai penjaga kios di mil 40. Satu korban lainnya bernama Aloysius Margana, karyawan PT Kuala Pelabuhan Indonesia. Mereka ditembak saat sedang mengemudikan mobil operasional perusahaan. Margana diketahui kerabat dari Roy Suryo, anggota DPR.
17. Tanggal 24 Oktober terjadi penembakan terhadap Kapolsek Puncak Jaya, Papua, AKP Dominggus Oktavianus di Bandara Mulia, Kabupaten Puncak Jaya. Korban tewas di tempat.
18. Tanggal 7 November terjadi penembakan oleh OTK di kilometer 45-46 area PT Freeport Indonesia mengenai kendaraan Toyota LWB No. Lambung SA 07 dengan pengemudi Wiliam Rondangkir. Akibat kejadian tersebut satu orang anggota Satpor III Kelapa Dua Briptu Marcelinus mengalami luka dibagian pelipis sebelah kiri, namun bisa diselamatkan.
19. Tanggal 18 November, kelompok sipil bersenjata menembaki satpam PT Freeport Indonesia yang mengendarai mobil Route Patrol 17 di mile 52. Korban bernama William Fery menderita luka parah di kepala bagian kiri.
20. Saat perayaan HUT OPM 1 Desember, dua anggota polri bernama Bripda Ridwan Napitupulu dan Bripka Dian Budi Santosa dipanah oleh sekelompok orang di Jayapura. Bripda Ridwan akhirnya tewas pada 5 Desember setelah menjalani perawatan di rumah sakit Bhayangkara Jayapura.
21. Pada Jumat 2 Desember l, dua anggota Brimob, Bripda Eko Apriansyah dan Bripda Ferliyanto Kalupu tewas dengan luka tembak di kepala. Mereka diserang ketika akan mengevakuasi 2 anggota Brimob yang terkena malaria di Kali Semen, Kampung Wandigobak, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.
22. Tanggal 13 Desember terjadi aksi baku tembak antara Polri dengan TPN-OPM di markas OPM Eduda, Paniai. Seorang polisi, Bripka Supono, mengalami luka-luka terkena tembakan tentara OPM.
23. Tanggal 17 Desember terjadi penembakan terhadap helikopter Hevilift milik maskapai Nyaman Air jenis Mil MI-8/17 berpenumpang 26 orang. Satu korban luka-luka adalah warga negara Filipina bernama Mery Jeans Mather karena terkena serpihan pecahan kaca helikopter.
Pelanggaran HAM
Mungkin saja masih ada sejumlah peristiwa penembakan dan penyerangan yang terlewatkan dalam catatan singkat ini. Penting untuk diingat, bahwa kasus-kasus penembakan itu erat kaitannya dengan peristiwa politik yang terjadi di Negeri Mutiara Hitam itu, baik pemilukada maupun tuntutan faksi-faksi yang selama ini intens memperjuangkan aspirasi Papua Merdeka.
Dari catatan yang ditampilkan di atas, jumlah korban tewas baik dari warga sipil maupun aparat keamanan ternyata tidak sedikit. Fakta ini menunjukkan bahwa pelaku penembakan juga datang dari warga sipil atau milisi bersenjata.
Maka, rasanya adil pula jika ada kampanye penegakan HAM di Tanah Papua, kampanye itu hendaknya ditujukan tidak saja bagi aparat keamanan yang sedang bertugas di wilayah itu, tetapi juga untuk warga sipil, khususnya faksi-faksi yang tengah memperjuangkan kemerdekaan Papua dengan menggunakan senjata

Referensi :
http://politik.kompasiana.com/2012/01/03/catatan-hitam-dari-negeri-mutiara-hitam/
 
Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Catatan Kekerasan Di Tanah Papua