Presiden Federal Papua Barat Dituduh Makar

Dituduh Makar, Presiden Federal Papua Barat Disidangkan
  
 [JAYAPURA] Presiden Negara Republik Federal Papua Barat (NRFPB) Forkorus Yaboisembut, S.Pd bersama empat rekannya yakni Perdana Menteri NRFPB Edison Waromi, Ketua Panitia Pelaksanaan Kongres Rakyat Papua (KRP) III  pada 19 Oktober 2011, Selpius Bobii,  August Makbrawen Sananay Kraar, dan Dominikus Sorabut menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jayapura, Papua. Mereka dituduh melakukan makar.

"Mereka  dalam Surat Dakwaan Nomor Register Perkara Nomor : PDM 457/JPR/Ep/2/12/2011 tanggal 16 Januari 2011, dengan dakwaan tunggal, yaitu perbuatan makar dan diancam pidana seumur hidup,� kata Direktur Eksekutif  Lembaga Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan, Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy, SH kepada SP, Selasa (24/1) pagi

Menurut Yan,  Pasal 106 KUH Pidana selengkapnya berbunyi, � Makar dengan maksud supaya seluruh atau sebagian wilayah negara jatuh ke tangan musuh, atau memisahkan sebagian dari wilayah negara, diancam dengan pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara sementara selama dua puluh tahun".

Sedangkan Pasal 55 Ayat (1)  ke-1 KUH Pidana merupakan pasal yang menunjukkan bahwa tuduhan perbuatan pidana yang dilakukan para terdakwa ini adalah dilakukan secara bersama-sama. Di mana ada yang melakukan, ada yang menyuruh melakukan, dan ada yang turut serta melakukan perbuatan pidana tersebut. 

Yan mengatakan, Pemerintah Indonesia dengan sidang  ini menunjukkan kepada semua orang Papua dan masyarakat internasional bahwa Pemerintah Indonesia tidak mampu mengurus orang Papua dan tanah leluhurnya ini sejak 1 Mei 1963 hingga saat ini.

Menurut Yan,  ada tiga  alasan. Pertama, dilihat dari awalnya, Selpius Bobii sebagai ketua panitia pelaksana bersama masyarakat Papua sudah memberitahukan tentang rencana penyelenggaraan KRP III ini kepada Presiden RI   Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta, dan tidak pernah ada pernyataan negara untuk melarang hal itu. Bahkan aparat keamanan di Jayapura justru diturunkan dalam jumlah cukup besar untuk mengawal kegiatan tersebut.

Kedua , pada hari pertama sewaktu terjadi pentas tari dari Grup Sampari Pimpinan Noak Baransano,  salah satu penarinya melambai-lambaikan selembar Bendera Bintang Pagi, dan disertai aplaus dan tepuk tangan dari Forkorus Yaboisembut, Edison Waromi, dan lainnya dalam acara pembukaan, aparat keamanan tidak bertindak.

"Mengapa Kapolresta Jayapura AKBP Imam Setyawan  dan jajarannya tidak mengambil tindakan sesuai prosedur hukum? Seharusnya Selpius Bobii, Forkorus, dan juga Noak Baransano dipanggil waktu itu dan dimintai keterangannya, dan jika terdapat bukti melanggar hukum maka harus ditindak," tegas dia.

Ketiga , tindakan penyerangan yang dilakukan oleh aparat gabungan keamanan terhadap massa yang masih berada di Lapangan Zacheus Misi Katolik - Padang Bulan - Abepura, tidak perlu terjadi, dan terkesan berlebihan sebagai bentuk tindakan arogansi dan kehendak pribadi AKBP Imam Setyawan, selaku Kapolresta Jayapura waktu itu, yang seperti mencari popularitas .

Sementara Olga Hamadi , kuasa hukum Forkorus Yaboisembut, S.Pd, mengatakan, kliennya dalam keadaan sehat. "Pak Forkorus sehat, begitu juga yang lain  baik itu Edison Waromi, Selpius Bobii, August Makbrawen Sananay Kraar, S.Pd,  dan  Dominikus Sorabut," katanya. [154] 


Sumber :SP

Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Presiden Federal Papua Barat Dituduh Makar