Referendum Suriah Digelar di Tengah Konflik

Presiden Bashar al-Assad dan istrinya Asma meninjau sebuah tempat pemungutan suara.
Pemerintah Suriah tetap menggelar referendum untuk mengubah konstitusi meskipun gelombang kekerasan terus terjadi di seluruh negeri dan menewaskan sedikitnya 30 orang.

Untuk menggelar referendum ini pemerintah Suriah mempersiapkan 13.000 tempat pemungutan suara untuk menjaring suara dari 14,6 juta orang.

Televisi pemerintah menayangkan rakyat memberikan suaranya di Damaskus dan beberapa kota lainnya di Suriah.

Wartawan BBC Jim Muir yang melaporkan dari Lebanon mengatakan dalam tayangan televisi itu semuanya nampak sangat normal.

Bahkan dalam tayangan itu, nampak Presiden Bashar al-Assad ikut memberikan suaranya di salah satu TPS.

Namun, hasil referendum ini banyak diragukan karena sejak awal kelompok oposisi anti- Presiden Assad sejak awal menyatakan memboikot referendum tersebut.

Keyakinan Assad

Meski banyak diragukan, Presiden Assad meyakini undang-undang baru hasil referendum ini merupakan elemen kunci dalam proses reformasi ini.

Wartawan BBC melaporkan Presiden Assad bahkan sangat yakin referendum ini berlangsung sukses dan akan menjadikan Suriah sebagai perintis demokrasi Timur Tengah.

Di bawah konstitusi baru ini sistem politik multi partai akan menggantikan sistem satu partai yang kini sangat dinikmati Partai Baath.

Kelompok oposisi menolak rencana ini karena pemerintah Suriah mengabaikan berbagai elemen konstitusi lama yang justru menjamin kebebasan berpolitik dan melarang penyiksaan

Sementara itu Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu mempertanyakan waktu digelarnya referendum Suriah. "Di satu sisi Anda menggelar referendum, namun di sisi lain Anda menyerang warga sipil menggunakan tank," kata Davutoglu.

Sedangkan pemerintah Amerika Serikat menjuluki referendum Suriah ini sebagai hal yang sangat menggelikan. 

sumber : internasional
Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Referendum Suriah Digelar di Tengah Konflik