Massa Perempuan Papua Barat Demo

Pemprov Diminta Beri Ruang Kaum Perempuan Bersaing di Dunia Politik MANOKWARI -

Massa Solidaritas Perempuan Melanesia Papua Barat (SPMPB) menggelar aksi unjuk rasa di DPR Papua Barat dan MRPPB, Kamis (14/3), mengutuk sejumlah kasus kekerasan dan pelanggaran HAM(Hak Asasi Manusia) terhadap perempuan Papua. � Mereka mengawali aksi di kantor MRPB dan selanjutnya berjalan kaki menuju kantor DPRPB. Massa mulai berkumpul di halaman kantor MRPPB sekitar pukul 09.00 Wit. Namun, mereka sangat kecewa karena tak seorang pun anggota MRPPB yang datang untuk mendengarkan aspirasi. Aktifis perempuan Papua ini membawa serta sejumlah pamflet yang meminta penghentikan kekerasan. Foto-foto perempuan yang menjadii korban kekerasan juga ditampilkan.


Dari kantor MRPPB di Taman Ria Rendani, massa SPMPB longmarch menuju kantor DPRPB�  berjarak sekitar 7 kilometer.�  Polres Manokwari sudah menyiapkan 2 bus untuk mengangkut massa. Namun�  niat baik polisi tersebut ditolak dan massa tetap berjalan kaki. Aksi ini dilakukan untuk memperingati hari perempuan sedunia. Cuaca cukup panas tak melunturkan semangat para perempuan ini.�  Dengan semangat mereka terus berjalan sambil terus menyampaikan pernyataan-pernyataan yang mengutuk kekerasan terhadap perempuan Papua. Aksi longmarch ini mendapat kawalan dari aparat kepolisian yang sebagian ikut berjalan.

Di kantor DPRPB, massa SPMPB diterima sejumlah anggota dewan diantaranya Obed Rumbruren, Origenes Nauw, Min Baransano, Sius Dowansiba, Muh Taslim Goliat Dowansiba dan lainnya  Mereka diterima di dalam ruang sidang utama setelah sempat berkumpul di halaman. Dalam pernyataan sikap yang dibacakan Ketua Umum SPMPB, Yume Kelmaskosu, disebutkan bahwa walau ada keinginan untuk membangun tanah Papua lewat otonomi khusus, namun ada kesan bahwa tidak ada itikad baik dari pemerintah�  untuk membangun perempuan Papua.

Bukti-bukti yang terlihat melalui pemerataan  pembagian kewenangan dalam  otsus yang telah bergulir selama 12 tahun, sehingga permasalahan ini merupakan suatu diskriminasi terhadap perempuan Papua. Secara absolute akhirnya menimbulkan kesenjangan sosial yang sangat merugikan, hak politik perempuan diabaikan,  ujarnya. Massa SPMPB menyampaikan 7 butir pernyataan sikap diantaranya, mendesak�  pemerintah untuk mengevaluasi dana otsus yang telah gagal total, pemerintah segera memperhatikan hak-hak politik perempuan Papua, segera Pemprov Papua Barat memberi�  ruang bagi kaum perempuan untuk bersaing dalam dunia politik, pemerintah Indonesia hentikan pelanggaran HAM, segera bebaskan tahanan politik serta pemerintah Indonesia membuka ruang demokrasi dan mengakui hak politik bangsa Papua. Anggota DPRPB, Min Baransano dan Obed Rumbruren yang menerima aspirasi menyatakan, pernyataan sikap SPMPB ini akan segera diserahkan ke pimpinan untuk dibahas lebih lanjut. Kami minta sekretariat dewan untuk catat aspirasi ini, jangan sampai aspirasi ini berlabuh tak ada tindaklanjut, ujar Origenes Nauw, anggota DPRPB dari Fraksi Partai Golkar.
Dialog antara massa SPMPB dan anggota DPRPB ini sempat diwarnai insiden kecil. Seorang aktifis WPNA  tiba-tiba masuk ke ruangan karena tak terima dengan pernyataan salah satu anggota DPRPB. Namun kejadian ini tak berlangsung lama. Hingga akhirnya massa membubarkan diri.(lm) Radar Sorong

Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Massa Perempuan Papua Barat Demo

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: