Sisi Kelam Paus Fransiskus Bergoglio

Buenos Aires --Terpilihnya Jorge Mario Bergoglio sebagai paus baru, Rabu malam lalu waktu Vatikan, menjadi kejutan bagi banyak pihak. Walaupun berada di peringkat kedua saat Paus Benediktus XVI terpilih delapan tahun lalu, Bergoglio bukanlah sosok favorit dalam pemilihan pemimpin tertinggi Gereja Katolik kali ini.

Terpilihnya pria asal Argentina itu turut membuka sisi kelam yang tidak banyak diketahui publik. (Lihat juga: Siapa Jorge Bergoglio, Sri Paus yang Baru?)

Meski dikenal sebagai sosok sederhana, pekerja keras, dan pelindung orang miskin, Bergoglio tidaklah disukai kalangan pegiat hak asasi manusia Argentina. Rupanya, sebagai bagian dari Gereja Katolik Argentina, pria berusia 76 tahun itu dinilai turut bersalah karena membiarkan kebiadaban junta militer yang menculik dan menewaskan ratusan ribu orang pada 1976-1983.

�Dalam konteks Perang Teror, Gereja Katolik melakukan kemunafikan, terutama Bergoglio,� kata Estela de la Cuadra. Ibu Estella adalah salah satu pendiri kelompok Nenek Plaza de Mayo--kelompok masyarakat yang berjuang mencari anggota keluarga mereka yang hilang dalam periode kelam tersebut.

Bergoglio dua kali menolak saat dipanggil sebagai saksi dalam kasus penyiksaan dan pembunuhan di Sekolah Mekanik Angkatan Laut serta kasus pencurian bayi dari tahanan. Saat Bergoglio bersaksi pada 2010, para pegiat HAM kecewa karena menilai jawaban dia sangat standar.

�Kesaksian Bergoglio menunjukkan bahwa pejabat Gereja Katolik mengetahui tindakan biadab diktator. Rezim brutal itu tidak dapat berjalan tanpa dukungan banyak pihak, termasuk Gereja Katolik,� tutur Myriam Bregman, pengacara HAM Argentina.

Tuduhan paling berat yang ditimpakan kepada Bergoglio adalah pengabaian terhadap penyiksaan dua pastor ordo Jesuit, Orlando Yorio dan Francisco Jalics. Keduanya saat itu menjalankan pelayanan di kawasan kumuh Argentina. Keduanya kemudian diculik dan disiksa di Sekolah Mekanik Angkatan Laut--lokasi penyiksaan junta militer.

Dalam sidang, Bergoglio mengaku telah meminta kedua pastor itu untuk menghentikan pekerjaan mereka. Namun Yorio sempat menuding Bergoglio bertanggung jawab atas kebrutalan tentara karena tidak mendukung kerja keduanya secara terbuka.

Yorio kini sudah meninggal. Sedangkan Jalics menolak membahas insiden ini sejak pindah ke sebuah biara di Jerman.

Namun penulis biografi pria yang kini bergelar Paus Fransiskus I itu, Sergio Rubin, tetap membelanya. Menurut Rubin, tragedi Perang Teror bukanlah semata kesalahan Bergoglio. �Tragedi itu harus dibebankan kepada Gereja Katolik Argentina secara keseluruhan,� ucap Rubin, wartawan harian Argentina, Clarin, yang menulis biografi The Jesuit pada 2010.

Sejak diangkat menjadi Kardinal Argentina pada 2001, Bergoglio memohon maaf atas dukungan Gereja Katolik terhadap rezim junta militer dalam Perang Teror. Namun pernyataan maaf yang diungkapkan pada Oktober 2012 itu dinilai sangat terlambat.

�Saat itu Gereja Katolik Argentina terbagi menjadi tiga. Pertama, kubu konservatif pendukung rezim penguasa. Kedua, kubu progresif pendukung oposisi. Sedangkan Bergoglio berada di antara kedua kubu itu,� Rubin menambahkan.

Sumber : Tempo
Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Sisi Kelam Paus Fransiskus Bergoglio

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: