BENCANA TANPA AKHIR, ORANG PAPUA MAKIN TERANCAM

Saya menulis ini sebagai dasar pelaksanaan DemonstrasiDamai, Senin 15 April 2013. Pakaian adat beberapa daerah yang akan dikenakanmahasiswa adalah simbol dan harapan akan eksistensi Orang Asli Papua di atastanahnya sendiri. (advokasi: bencana Tambrauw,Yahukimo,Tolikara)


Yason Ngelia

(Mengapa kami kenakan pakaian adat) Seketikatradisi dan adat istiadat mulai tergusur. Tidak ada lagi rasa bangga akanatribut-atribut dan simbol-simbol budaya di Tanah Papua. 270 suku bangsa dengankeuinikannya berlahan undur dari peradaban. Entah benar dan tidak Papua  sedang mengalami krisis identitas sebagaisuatu bangsa kulit hitam diujung timur dunia. Mungkin benar Papua sedangmengalami Kirisis identitas dan kepercayaan diri. Terbukti ketika kritikan pedas kepada seorang antropolog dan tokoh budaya Papua pendiri MAMBESAK, Arnold Clemens Ap (1945-1985). Dan Kalimat inipun di katakan beliau untuk membenarkan idiologinya; Mungkin yang kalian pikir yang saya lakukan adalah tolol, tapi yang saya pikir akan saya lakukan untuk rakyat dan negri saya, sebelum saya meninggal
Hal-hal tolol yangdipikirkan orang ternyata telah mengangkat harkat dan martabat bangsa Papua danmempersatukannya. Alunan musiknya adalah bahasa persatuan untuk mempererat270an suku di Papua. Setelah kematiannya tidak ada lagi manusia papua setolol beliau. Para Pemuda terbuai di era globalisasi dan moderenitas dunia, padahal eksistensi Penduduk Papua (Negroid dan Melanesia) sedang terdegradasi oleh hila-hila bangsa kolonial. Atribut kebudayaan Papua yang hampirdimusnahkan pada awal kedatangan bangsa luar itu, tidak lagi menjadi kebanggaan masyarakat Papua pada umumnya dan terkhusus para pemuda Papua masa kini. Kebudayaanyang adalah bagian integral dari jiwa bangsa asli Papua saja di sepelehkanketika terancam hilang lenyap. Terlebih lagikonflik-konflik karena kesenjangan Sosial dan Politiknya.  
Bukankah penduduk Asli Papua kini minioritas, dan juga mendapat urutan kesatu, sebagai provinsitermiskin di Indonesia (Papua dan Papua Barat). Fenomena Sosial politiknyaadalah: Merdeka, OTSUS, Pemekaran, tetap Merdeka. Disebabkan karena statuspolitik integrasi Papua dengan Republik Indonesia belum tuntas, itu yang diyakini,pelanggaran HAM berat negara kepada rakyat Papua dahulu hingga kini tanpa pertanggungjawaban,termarjinalkan oleh sikap diskriminasi kebijakan pemeirntah baik Pusat maupundaerah. Fenomena ini menjadi kebudayaan baru. Bahwa rakyat Papua adalah rakyatmiskin, rakyat Papua adalah primitf, SDM Papua terbatas. Akhirnya kematianrakyat dengan jumlah yang tidak sedikit dibeberapa pedalaman Papua dan PapuaBarat adalah wajar oleh sebagian besar warga Papua. Ketika masih ada sebelaskampung terisolir bahkan dua diantaranya belum dapat dijamah pemerintah, adalahwajar. Ketika orang Papua masih hidup nomadendan hidup diatas pepohonan yang tinggi ialah baik, seketika masih terdapat kanibalisme dimasyarakat, ternyata adalah baik dan wajar. 
Dan ketika masyarakat papua mati karena kekurangan gizi,busung lapar, diare, hepatitis, TBC, AIV/AIDS, adalah wajar karena Papua adalahprovinsi terburuk di negara ini dalam hal pembangunan baik struktur infrastruktur. Sarana prasaranapendidikan kualitas pengajar sangatlah terbatas. Papua kian jauh dari harapan. 50Tahun integrasi sebagai anak bungsu RI, presidenpun berganti, gubernur danbupati sePapua setiaptahunan berganti, namun Papua tetaplah Papua. Mungkinkah hal ini wajar di Negri Emas?. Negri denganmaterial terbaik dunia, emasnya, uraiumnya, tembaganya, peraknya, gas, minyakbumi, dan hutannya. Kekayaan baharinya tidak terbatas. Mungkinkah realitas sosial politiknya adalah wajar di atas Negri Emas?Dengan tidak akan jenuh-jenuh mahasiswa Papua mengawal pembangunan dankehidupan masyarakat asli papua yang notebennya adalah masyarakat yang masihtergantung kepada alam dan kebudayaanya, sehingga terkadang minimbulkanstigmatisasi miring terhadap mereka. Kebijakan yang seharusnya dan sebagai manamestinya. Walaupun kebijakan pemerintah hanya menguntungkan. Sikap pemerintahsemakin hari semakin jelas, bahwa tidak adanya perhatian yangsungguh-sunguh  kepada rakyat Papua. Hal itu terlihat dengan berbagai kasus di beberapadaerah akhir-akhir ini. Pakaian adatyang akan kami kenakan adalah bentuk keprihatinan kami terhadap eksistensimasyarakat adat Papua di atas tanahnya sendiri. Wilayah yang sungguhmustahil jika ada masalah-masalah demikian. Kematian massal. Walaupun semuapihak telah banyak mengusulkan alternatif pembangunan kepada pemerintah namunhingga kini Papua tetap dibawah garis kemajuan. Hal itu berlangsung dalamseghala segi. Profesor Koencoro Ningkarat (budayawan RI) pernah mengusulakanbahwa pembangangun Papua sebaiknya di diawali dengan pendekatan-pendekatankontekstualnya. Atau pendekatan pembanguan sesuai kebudayaan masyarakat Papua.Namun sentralistik kebijakan yang dilaksanakan di Tanah Papua. Hingga menimbulkankonflik berkepanjangan dan tak terselesaikan. Masyarakat Papua diakui sedang terancam oleh konflik baik sengaja maupun tidak. Aksi demo pada Senin, 15 April2013 adalah sebagai bentuk keprihatinan terhadap kehidupan rakyat miskin Papuayang masih sangat tradisional.

Kami BEM FISIP-UNCEN Mengundang rekan-rekan pemuda mahasiswa sekalian untuk turut gabung dalam aksi demo/kampanye, mencari perhatian pemerintah atas berbagai permasalahan yang dihadapi rakyat dipedalaman-pedalaman Papua. Berbagai bencana telah menimpa dan merenggut hak hidup mereka diatas tanah pusaka mereka. Adapun aksi ini mewajibkan mahasiswa memakai kostum adat daerah, jika tidak maka kenakanlah jas almamater kampus mu. Aksi demo pada Senin, 15 April 2013, pukul07.00-14.00. Titik kumpul Perumnas III Waena-lingkaran abepura-perumnas III Waena.

LAWAN KAWAN�..!

Sumber  : Yason Ngelia




Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : BENCANA TANPA AKHIR, ORANG PAPUA MAKIN TERANCAM

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: