Preman - Preman di Negeri Hukum

Setelah kejadian LP Cebongan beberapa minggu lalu,  pengguna social media begitu antusiasnya mengomentari tulisan-tulisan yang muncul. Perilaku bahwa setiap orang harus menentukan sikap pro atau kontra terhadap peristiwa itu sungguh mengusik naluri untuk ikut terlibat mengomentari. Setidaknya melalui tulisan ini. Menarik untuk dicermati, selain pro dan kontra tentu ada yang mengomentari dengan bijak. Tepatnya menggarisbawahi bahwa peristiwa di Lp Cebongan dan Hugo�s Caf� adalah perbuatan yang melanggar hak hidup. Ya manusia dengan karakter masing-masing membawa serta perilaku dimanapun berada. Lepas dari jahat atau baik manusia tersebut, hak hidup esensinya dimiliki oleh setiap manusia. Jadi mengambil nyawa orang lain, dalam konteks kemanusiaan adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan itu sendiri.


Menarik untuk dibahas adalah istilah premanisme atau preman. Komentar-komentar di social media terlintas bahwa preman diartikan sosok individu yang melakukan perbuatan jahat, yaitu pemalakan disertai ancaman, bahkan mungkin diakhiri dengan pembunuhan. Atau perilaku yang mengancam dan membuat tidak aman dilingkungan sekitar. Bisa jadi sosok gambar visual preman pun harus ganas, bertato, garang, atau sangar. Seharusnya seperti apa gambaran preman tersebut? Mari kita  coba perluas definisi preman itu sendiri.

Preman dan perilakunya
Sudah umum kita jumpai bahwa perilaku seorang preman yang identik seperti di film atau sinetron adalah menebar  ketakutan bagi masyarakat. Masyarakat memberi cap bahwa preman memunyai perilaku yang kasar, bahkan terkesan menakutkan. Kejadian-kejadian di sekitar kita, mungkin menguatkan identitas preman tersebut. Bahwa memang benar, preman selalu berperilaku buruk. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Karena tidak ada batasan istilah yang pasti, mana yang seharusnya disebut preman dan yang bukan preman. Apakah harus berpenampilan �sangar� atau rapi berdasi, berseragam dan berjubah?  Untuk itu kita coba telaah definisi preman itu sendiri. Premanisme berasal dari bahasa Belanda �Vrijman� atau orang bebas. Sedangkan dalam bahasa Inggris �freeman� atau artinya juga orang bebas.

Sebutan �orang bebas�, berarti memunyai beberapa konteks social kemasyarakatan. Konteks kehidupan social di pedesaan istilah preman mengandung arti lain, misalnya pekerja serabutan atau petani serabutan yang menggarap lahan sawah milik orang lain. Sedangkan dalam konteks social masyarakat kota, istilah preman dipahami sebagai orang yang tidak memunyai pekerjaan yang jelas. Sepertinya apa yang terjadi di Hugo�s Cafe merujuk atau lebih dekat pada konteks social mesyarakat kota. Di era keterbukaan dan teknologi  informasi sekarang ini, arti preman sepertinya sudah mulai bergeser cara pandangnya. Misalnya mulai muncul istilah preman berjubah, berdasi atau berseragam. Bahkan gambaran visualisasi preman sudah tidak lagi se-sangar pada umumnya. Preman pun sudah mulai bermetamorfosa, berubah bentuk lebih rapi dan terorganisir. Berarti melalui cara pandang ini preman lebih melekat pada sifat�sifatnya yang dianggap tidak selalu menyenangkan. Dan sifat-sifat ini bisa dilakukan oleh siapa saja, baik berjubah, berseragam, berdasi dan menggunakan kepanjangan tangan.
Jadi bisa  disimpulkan bahwa, sudut pandang memahami preman bisa berbeda-beda. Mungkin beberapa komentar di social media mewakili sebagian yang menganggap ke empat tahanan tersebut adalah preman. Namun harus diakui pula, bahwa ada sebagian besar masyarakat yang melihat dari sisi lain, yaitu tidak menganggapnya preman. Sebagian masyarakat ini terwakili mungkin dari keluarga atau teman dekat yang sungguh-sungguh tahu sifat dan karakter yang bersangkutan. Siapapun yang menilai, harus diakui pula bahwa masyarakat memunyai kebebasan dalam memberikan penilaian. Pun lebih kental subjektifitasnya.

Akhir-akhir ini informasi dari teman di jogja, muncul spanduk yang mendukung pemberantasan preman. Barangkali momentum peristiwa di LP Cebongan menjadikan masyarakat mulai memberanikan ketdaksetujuannya dimana aktifitas premanisme mulai meresahkan. Pun pula dalam hati sebagian masyarakat  menyatakan persetujuan terhadap peristiwa Lp Cebongan. Mungkin juga masyarakat sudah jengah dan muak dengan aksi premanisme selama ini. Jadi seakan-akan membenarkan peristiwa tersebut. Walaupun aksi itupun ditengarai balas dendam, yang berarti ada sebab dan akibat tentunya. Semoga peristiwa ini tidak kembali terulang di Negara yang memunyai Hukum positif.(Adolf Nugroho)
Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Preman - Preman di Negeri Hukum

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: