DI SINI LETAK PERBEDAANNYA

Saya teringat ketika itu,saat saya baru saja berusia 6 tahun dan harus masuk group 1 di sebuah Community School (SD 6 tahun)di sebuah kampung kecil yang tidak jauh dari perbatasan antara East dan West PNG.

Bangunan sekolah yang sangat sederhana,berdinding gaba-gaba,beratapkan daun sagu dan berlantaikan tanah. Meja dan bangku kayu.Layaknya sebuah bangunan sekolah darurat. Gurunya ada 4 orang,3 orang wanita dan 1 orang pria.

Foto/ils BookDrive
Kami diajarkan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Nasional Papua New Guinea. Walaupun demikian,dalam kurikulum bagi pendidikan dasar di negara tersebut,bahasa daerah diwajibkan sebagai bahasa pengantar untuk kelas satu,dua dan tiga(khusus bagi sekolah-2 yang di kampung). Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika rata-rata guru-guru kelas satu dan dua bahkan sampai kelas tiga di kampung-kampung umumnya adalah putra-putri daerah setempat yang tentunya mahir berbahasa daerah. Bahasa Pidgin atau Tok Pisin (bagi bagian utara atau New Guinea)dan Bahasa Motu (untuk bagian selatan atau Papua) juga dipakai sebagai bahasa pengantar khusus bagi guru-guru yang datang dari luar.

Berbeda dengan sekolah2 di kampung-kampung,maka umumnya sekolah di kota-kota cenderung menggunakan Bahasa Inggris sejak Pre-School sehingga mempermudah guru di kelas-kelas awal untuk langsung saja menggunakan bahasa Inggris tanpa mengalami kesulitan walaupun tidak dapat disangkal bahwa dalam keadaan-keadaan tertentu,Bahasa Pidgin dan Bahasa Motu turut memainkan peranan penting.Proses belajar mengajar berlangsung hanya mulai hari Senin sampai dengan Jumat.

Dalam proses belajar mengajar,guru dan murid menggunakan alat bantu yang serba sederhana sesuai dengan keadaan lingkungan dan yang juga dianjurkan dalam kurikulum.Misalnya,jika belajar berhitung kami di suruh memotong ranting-ranting kayu atau bambu (pendeknya seukuran 10 atau 15 cm),lidi dari daun kelapa atau daun sagu,mengumpulkan batu-batu atau buah-buah hutan yang sebesar kelereng (seperti buah sagu,buah rotan,juga buah-2 lain yang keras),kulit kerang yang kecil-kecil,bahkan penutup botol bagi yang beruntung ke kota semuanya akan kami gunakan dalam pelajaran berhitung.Kulit pelepah sagu atau belahan akar pandan pun kami jadikan mistar.

Sebelum memulai pelajaran menulis,kami lebih dulu diminta bermain tali yang disambung ujung-ujungnya sehingga berbentuk seperti kalung(biasanya tali tersebut terbuat dari pintalan bagian dalam kulit kayu genemo/melinjo ataupun dari kulit ari daun sagu yang masih sangat muda. Permainan tali tersebut yang biasanya dimainkan oleh satu atau dua orang itu,yakni sebuah permainan yang lebih mengandalkan kelincahan jari jemari dalam memindahkan tali dari jari yang satu ke jari yang lain untuk menciptakan bentuk-bentuk tertentu.Kami diberi waktu sekitar lima sampai sepuluh menit untuk permainan tersebut,dengan maksud agar membantu melenturkan seluruh persendian pada jari-jari tangan dan mempermudah kami untuk menulis nanti.

Umumnya kami belajar gramatika dalam bentuk yang amat sederhana.Ada berbagai contoh bacaan dalam Bahasa Inggris yang diangkat dari kehidupan sehari-hari dan budaya penduduk Melanesia yang mendiami Papua New Guinea.Jadi,kami sama sekali tidak diajarkan kebiasaan penduduk di Australia sekalipun kurikulumnya mirip dengan kurikulum pendidikan di Australia.Nama-nama yang dipakai dalam buku-buku bacaan adalah nama-nama asli dalam bahasa daerah dari Papua New Guinea.

Selain itu,kami juga diajarkan membuat kebun,bagaimana menebang kayu,memintal tali untuk noken,membuat noken, membuat busur-panah,membuat tombak,menganyam tikar,bagaimana mengikat kayu bakar,bagaimana menyimpan makanan agar tetap bersih,bagaimana membuat cawat bahkan memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan ringan dengan menggunakan bush material dan masih banyak lagi ketrampilan lain yang diajarkan dalam Bahasa Inggris tentunya.Hampir sebagian besar proses tersebut berjalan hanya dengan menggunakan material yang ada di sekitar kami.

Respek dan tabu adalah hal yang tidak luput dari pelajaran di sekolah.Pada jam-jam tertentu,kami mengikuti program pendidikan yang khusus disiapkan bagi setiap kelas,masing-masing kelas dengan jam dan materi yang berbeda-beda,program pendidikan via radio ini disiarkan langsung dari Port Moresby melalui Radio Nasional.

Untuk menanamkan rasa cinta akan budaya,kami diharuskan menggunakan pakaian tradisional pada hari Jumat. Pada hari tersebut guru melarang kami untuk mengenakan pakaian yang terbuat dari kain.Jika ada pesta-pesta sekolah,kami diwajibkan memakai pakaian tradisional.

Sebagian besar lagu-lagu di sekolah diangkat dari kebiasaan hidup sehari-hari walau lagunya dalam Bahasa Inggris.Misalnya lagu berikut ini:

OLD ARUA (=Di halaman Mampasai)

Old Arua has house ia ia oooo
And in this house he has a dog ia ia oooo
With a wuf wuf here,and a wuf wuf there
Here wuf,there wuf,everywhere wuf wuf
Old Arua has a house ia ia ooooo

(Setelah bait pertama biasanya "dog" diganti lagi dengan nama binatang yang lain.)

Nama Arua sendiri adalah salah satu dari nama-nama tradionil lainnya yang beasal dari wilayah-wilayah tertentu di PNG,mereka tidak mengambil nama George,Matthew atau nama-nama asing lainnya.

Atau ada juga lagu yang dinyanyikan bersahut-sahutan dengan menggunakan dua kelompok,kelompok yang satu bernyanyi sambil bertanya dan kelompok yang lain bernyanyi sambil menjawab:

WHERE IS ALE AND LUYA

Group A(bernyanyi sambil berlagak seperti seorang yang sedang mencari sesuatu):
Where is Ale?
Where is Ale ?

Group B (bernyanyi sambil menunjuk seorang teman):
He is here.
He is here.
He is here.

Setelah itu group B ganti bertanya, "Where is Luya?"
dan group A menjawab,''She is there. She is there. She is there."

Dengan demikian maka pola berpikir dan pembentukan karakter subyek didik lebih terlihat mantap dan lebih menjadi diri sendiri yang berciri khas Melanesia.Sekalipun pengaruh asing juga masuk menyusup sejak awal namun pendidikan dasar masih tetap berbau Melanesia.

Saya berpikir bahwa metode semirip ini yang pernah dipakai oleh Belanda dalam mendidik generasi tua West Papua pada jaman penjajahan Belanda di West Papua.Berbeda dengan pendidikan di jaman penjajahan Indonesia di Papua.Anak-anak yang tidak pernah tahu tentang hal-hal sepeti :kereta api,gajah,harimau,sawah dan lain-lain yang berada di Pulau Jawa dan di pulau-pulau lainnya dipaksa untuk membaca buku-buku tentang itu.Dan masih banyak lagi bentuk pembelajaran di tingkat dasar yang lebih mengarah ke Jawa ketimbang di Papua sendiri.

Disinilah letak perbedaan pendidikan dasar di Papua New Guinea dan West Papua.
Semoga ke depan akan ada pola pendidikan dasar di West Papua yang lebih menitikberatkan ciri khas Melanesia.
Sadar atau tidak,kehancuran kepribadian dan karakter anak-anak/generasi muda Papua sudah bermula sejak si anak mulai mengecap pendidikan di tahun-tahun awal.
Sadar atau tidak,pola berpikir dan karakter anak-anak Papua telah berhasil digiring ramai-ramai keluar Papua terutama ke Jawa.
Dan inilah awal dari kehancuran akan kesadaran diri,yakni "SIAPAKAH SAYA" sebenarnya.
Jika seseorang sudah diajar untuk tidak sadar diri,maka sisa hidupnya selanjutnya akan menjadi sebuah kehidupan yang serba "ASAL-ASALAN".Dia menjadi seorang manusia yang kehilangan indentitas,manusia yang tidak tahu diri dan manusia yang KURANG JELAS serta tidak tahu adat.

Bagi saya,Generasi Papua saat ini sudah berada pada ambang kehancuran.
Siapakah yang akan menolong mereka?
Semoga tulisan saya yang tidak berarti ini dapat membantu memberikan inpirasi dalam mendidik anak-anak Papua saat ini dan di masa depan.
Pendidikan modern memang penting tapi bukan berarti kita harus dipaksakan untuk melupakan "SIAPA SAYA" sebenarnya.
Kenal diri lebih dulu secara baik-baik barulah berusaha untuk mengenal dunia luar,hal ini sangat penting.

Mohon maaf jika ada penulisan kata yang tidak tepat dan penggunaan gramatika yang kurang bagus.

Terima kasih,
Salam,

Renee Annesthasie SB.

Venlo, 31 Mei 2013.
-----------------------------------------------------
Dicopas dari catatan Facebook : Sandaun Mixim WestPa

Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : DI SINI LETAK PERBEDAANNYA

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: