Polisi Republik Indonesia tangkap Polisi Republik Papua (Opini)

Jayapura - Seorang pria yang mengaku sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Federal Papua Barat (NRFPB) dan mengenakan seragam dengan pangkat empat bintang, diamankan polisi di Jayapura, Papua. Turut diamankan 6 orang lainnya yang sedang bersamanya.

Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol Patrige Renwarin menyatakan hingga Kamis (16/4/2015), para ketujuh orang tersebut masih diamankan di Mapolda Papua. Polisi masih meminta keterangan mereka untuk mengetahui motif dan organisasi yang mereka ikuti.

Mereka diamankan pada Selasa (14/4) sekitar pukul 06.55 WIT di Bandara Sentani. Saat itu mereka baru saja turun dari pesawat Batik Air dari Jakarta. Petugas Polres Jayapura kemudian mengamankan mereka.

Para pelaku yang diamankan itu, masing-masing Elias Ayakeding yang mengaku sebagai Kepala Kepolisian NRFPB dan mengenakan seragam warna gelap dengan bintang empat atau jenderal di pundak dan di baret warna birunya. Sementara enam lainnya merupakan delegasi Komite Independen Papua (KIP), masing-masing
Lawrence Mehuwe, Ones Banundi. Mas E Suebu, MD, Don Flassy dan TF. Baca selengkapnya : http://news.detik.com 

Kembali pada judul postingan  diatas, "Polisi Indonesia Tangkap Polisi Papua"  yah kedua kepolisian dari negara yang berbeda. Yang satu milik negara kesatuan republik indonesia (NKRI) dan satu lagi milik negara republik federal papua barat (NRFPB).

Patut diacungi jempol atas sikap dari polda papua yang mana dengan alasan tegas menyatakan bahwa : Ditegaskan Patrige, Papua merupakan wilayah NKRI, tidak boleh ada yang mengklaim Papua sebagai negara lain.(Detiknews

Demikian pula sikap dari polisi papua (NRFPB) yang mana dalam penangkapan tidak melakukan perlawanan (menghormati proses yang ada)  patut diacungi jempol.

Status kepolisian indonesia Polisi Daerah (Polda) sedangkan Polisi Papua yang ditangkap jabatannya adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Federal Papua Barat

Memang hingga saat ini masih banyak orang indonesia yang belum begitu tahu tentang keberadaan negara Papua padahal hasil kongres pada 2011 lalu telah mendeklrasikan pemulihan kemerdekaan Negara Papua dengan perangkat negara yang sudah lengkap. 
Dari pihak indonesia terkesan menyembunyikan hal ini. Yang terjadi malah tindakan penangkapan, hingga tindakan pembubaran dan juga berujung pada pasal makar. 
Seperti yang dialami presiden Papua, Forkorus Yaboisembut dan Edison Warome. Padahal keduanya adalah Presiden dan Perdana Menteri Negara Federal Papua Barat. Yang secara nyata sudah status dan kedudukan sejajar dengan presiden Republik Indonsia, yang mana kedua belah pihak dapat mengatur hubungan baik antar kedua negara dimasa depan. Tetapi faktanya terbalik, presiden, perdana menteri dan aktvis-aktivis yang bersuara untuk Papua merdeka di tangkap dan dimasukan ke penjara-penjara. 

Seandainya saja sikap kapolda papua ini dilakukan jauh sebelum dilaksanakannya Kongres Papua III, sangat tepat sekali, mengapa? karena pada saat itu, pemulihan kemerdekaan negara Papua belumlah dilaksanakan. Pemulihan ini baru saja pada bulan oktober  tahun 2011. 

Sangat penting dan perlu dicatat bahwa : Kongres Rakyat Papua adalah Forum Tertinggi Kedaulatan Rakyat Papua. Kongres yang pertama pada tahun 1961 (saat itu indonesia belum mengklaim papua) yang kedua dilaksanakan pada 2000 dimana terbentuknya Presidium Dewan Papua dan yang ketiga pada 2011 adalah Merupakan Sikap dari Rakyat Bangsa  Papua di negeri Papua Barat.  Sehingga apa yang telah dihasilkan itu akan tetap diperjuangkan sampai mendapatkannya. 

Penangkapan demi penangkapan, pasal makar berganti pasal makar, segala pelanggaran terhadap hak rakyat papua akan terus terjadi, jika terus dipertahankan sikap dan tindakan negara indonesia melalui kepolisian daerah seperti ini. 
Sampai kapan rakyat Papua, yang notabene pemilik sah tanah Papua diabaikan hak politiknya?

Menurut saya alangkah baiknya, indonesia membuka diri, jangan membatasi setiap pergerakan rakyat papua yang ada. Ikutilah apa tuntutan rakyat Papua, Hak untuk menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis, bukan dengan jalan penangkapan dan pasal makar atau pembubaran setiap aksi demonstrasi itu bukan solusi. 

Karena semakin diredam akan semakin bertumbuh dan menjadi kuat.

Catatan-catatan
By. Phaul Heger





Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Polisi Republik Indonesia tangkap Polisi Republik Papua (Opini)

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: