Polisi Indonesia Melakukan Pengalihan

Aksi Demo Damai KNPB Dukung ULMWP: Tindakan Kekerasan Polisi, Ada Upaya Dari Polisi Untuk Mengalihkan Dengan Pasal Penghasutan Kepada Korban (Aktivis dan Massa Aksi).

Fotografer, John Douw | Situasi Singkat di Gapura UncenFotografer, John Douw | Situasi Singkat di Gapura Uncen

Pagi itu, sekitar Pukul 09:00 Waktu Papua (WP), Kamis 28 Mei 2015 bersama para aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan rakyat sipil Papua berjalan dari arah asrama Universitas Cendrawasih (Uncen) menuju Gapura Uncen Atas.

Terdengar �buka ruang demokrasi dan akses bagi Jurnalis Asing di Tanah Papua untuk meliput secara resmi dan bebas,� dari pengeras suara (Megapon) oleh aktivis KNPB berpakaian Army sebagai simbol pejuang revolusioner Papua Barat.

Perlengkapan Aksi Demonstrasi (Demo) Damai adalah Bendera KNPB, Spanduk, Poster, Megapon, Tali Komando, dan Kamera.

Spanduk yang dibentangkan oleh aktivis KNPB bertuliskan �Rakyat Papua Mengundang Jurnalis Asing, Lembaga Kemanusiaan Segera! Datang ke Papua,� KNPB Numbay, 28 Mei 2015. Terlihat jelas juga belasan bendera KNPB, Poster bergambar bendera Papua Barat, Papua New Guinea (PNG), Vanuatu, Kanaky (New Caledonia), Solomon Islands, dan Fiji sebagai bentuk dukungan melalui badan resmi rakyat Papua Barat United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) untuk membawa aplikasi West Papua sebagai anggota resmi di keluarga Melanesian Spearhead Group (MSG).

Massa aksi terpimpin ialah massa yang berada di Tali Komando, bergerak dari satu jalur menuju Gapura Uncen.

Sekitar Pukul 10:00 WP, Koordinator Lapangan (Korlap) KNPB, Koordinator Umum (Kordum), bersama anggota KNPB barisan depan disambut tidak manusiawi oleh aparat gabungan Polisi, Intelijen, Brimob, dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Bukan hanya barisan depan, beberapa rakyat sipil, aktivis Papua, aktivis KNPB yang berada di bagian belakang juga disambut tidak manusiawi.

Tanpa adanya negosiasi, gabungan aparat keamanan Indonesia melakukan pembubaran paksa terhadap aksi Demo Damai. Sehingga, Aktivis KNPB dan massa aksi dipukul, dikeroyok, dan dimasukan dalam Truk Dalmas milik Polisi Resort Jayapura Kota (Polresta).

Sejumlah perlengkapan aksi Demo Damai dirampas dan disita oleh gabungan aparat keamanan Indonesia. Para aktivis dan beberapa massa aksi mengalami luka-luka darah, bengkak dan patah gigi.

Perlakuan gabungan aparat keamanan tidak hanya di massa aksi. Mereka melakukan intimidasi kepada wartawan lokal.

�Kami yang berada dalam Truk Dalmas melihat jelas bahwa seorang Jurnalistik muda asal Papua, Oktovianus Pogau, Hengki Yeimo wartawan media online www.majalahselangkah.com dan beberapa lainnya didatangi oleh Polisi dan Intelijen. Mereka menanyakan secara tidak sopan terkait pengambilan foto. Beberapa wartawan bahkan fotografer lari karena, ketakutan,� Sonny Dogopia, yang juga mengalami pengeroyokan oleh gabungan aparat keamanan Indonesia, sebagai penulis kejadian ini.

Sempat terjadi aksi lemparan oleh mahasiswa Uncen. Namun, aksi lemparan tidak berasal dari barisan massa KNPB. Dan massa yang mengalami perlakuan oleh gabungan aparat keamanan Indonesia juga hampir terkena lemparan batu dari mahasiswa.

30 gabungan aktivis dan massa aksi di dalam Truk Dalmas, sekitar satu jam di dalam Truk, 30 gabungan aktivis dan massa aksi langsung dibawa ke Polresta.

Sekitar Pukul 12:00 WP tiba di Polresta. Di Polresta, ada beberapa aktivis KNPB dan massa aksi yang saat itu bertahan di titik aksi Expo Waena, Taman Imbi (depan Kantor DPRP). Pada Pukul 13:00 WP, aktivis dan massa aksi dari Waena Perumnas III juga ditahan oleh Polisi dan tiba di Polresta.

Gabungan aparat keamanan bersama intelijen melakukan tindakan yang sama. Salah satu fotografer, John Douw mendapatkan pukulan oleh pengeroyokan Polisi dan Intelijen. Sedangkan, aktivis KNPB dan massa aksi lainnya juga disambut kekerasan aparat keamanan Indonesia.

�Saya hanya foto saja. Tapi, kenapa Polisi dan Intel keroyok saya dan bukan hanya saya saja, teman-teman yang mengambil foto memakai handphone juga mendapatkan tekanan dari Polisi dan Intel,� kata John Douw, seorang fotografer yang sempat dikeroyok oleh Polisi dan Intel.

13 aktivis KNPB dan massa aksi disiksa Polisi saat melakukan penangkapan dalam aksi dukungan terhadap ULMWP di Jayapura.

Aksi Demo Damai mendukung ULMWP membawa West Papua sebagai anggota resmi di MSG berakhir dengan penangkapan, pembubaran paksa, dan pemukulan, penyiksaan terhadap aktivis KNPB.

Berikut adalah korban penyiksaan yang dilakukan oleh gabungan aparat keamanan Indonesia pada saat melakukan pembubaran paksa dan penangkapan sejumlah aktivis di Papua.
Nama-nama Korban:
1. Sam Lokon (L/24), Kepala dipukul dengan pantat senjata.
2. Ori Ilintamon (L/26), Dipukul dengan sepatu dan pantat senjata di kepala yang mengakibatkan kepala bengkak dan hendak mengeluarkan darah dan telinga robek keluarkan darah.
3. Abetnego (L/23), Dipukul dan diinjak-injak.
4. Asa Alua (L/25), Dipikul dengan senjata sehingga kepala berdarah.
5. Yosep Degey (L/20), Dikeroyok Polisi, bagian kepala tengah luka hingga mengeluarkan darah.
6. Jufri Pahabol (L/22), Dipukul Polisi bagian dagu/dahi kanan terluka.
7. Aptor silak (L/21), Darah keluar dari hidung dan telinga, Muka Bengkak.
8. Jhon Douw (L/22), Dikeroyok Polisi dan Intel hingga mata dan pipi kiri terluka.
9. Kelopas Boma (L/22), Dikeroyok Polisi gigi dua patah.
10. Sonny Dogopia (L/24), Dikeroyok Polisi dan Intel hingga dipukul popor senjata, karet mati, dan gas air mata.
11. Benny Yatipai (L/21), Dikeroyok Polisi hingga kepala terluka.
12. Epi Siep (L/22), Dipukul hingga Tulang belakang bengkak.
13. Nopen Aso (L/22), Dikeroyok oleh Polisi di Taman Imbi hingga muka bengkak.

Kepolisian di Papua tidak menjalankan fungsi dan peran mereka sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Namun, Polisi menjadi aktor kekerasan di Papua Barat.

Buktinya, pada saat rakyat Papua mengadakan Aksi Demo Damai dimediasi oleh KNPB. Namun, Polisi membubarkan secara paksa dan menangkap.

Penangkapan di Kota Jayapura terjadi di tiga tempat yang berbeda antara lain: Perumnas III Waena sebanyak 30 orang, Halaman Kantor DPRP sebanyak 8 orang, Di Taman Imbi Jayapura Kota sebanyak 4 orang, Di Nabire sebanyak 6 orang, dan Di Wamena sebanyak 25 orang.

Fakta lapangan juga dapat kita lihat masing-masing wilayah di seluruh tanah Papua. Ironisnya, berujung pada penggledaan barang di Sekertariat Merauke, Sorong. Dan beberapa Wilayah lainnya yang diklaim Polisi kena Pasal Penghasutan, seperti; KNPB Wilayah Manokwari, Biak dan Nabire.

Fakta lapangan jelas bahwa Kepolisian Indonesia sudah melanggar Undang-undang kepolisian. Polisi melakukan pengalihan aktor konflik. Pihak kepolisian juga melanggar Undang-undang No. 9 Tahun 1998 Pasal 28.

Undang -undang kepolisian tahun 2009 pasal tiga (3) dan pasal lima(5), sangat jelas berbicara tentang fungsi dan tugas kepolisian sebagai mitra kerja masyarakat.

Polisi memiliki kewajiban mengamankan, mengawasih dan melindungi dalam setiap kegiatan masyarakat, baik Demo Damai, mimbar bebas, KRR dan kegiatan lainya. Polisi bukan bertugas untuk memblokade, melarang, membubarkan paksa dan melakukan penangkapan sewenang-wenang seperti yang terjadi selama ini. Bahkan Polisi melakukan tindakan kekerasan, seperti; pemukulan, pengeroyokan, hingga mengalami luka dan bengkak.

Gabungan aparat keamanan Indonesia di Papua selama ini terus melanggar Undang-undang, menyalagunakan fungsi dan tugas di Papua. Polisi terlalu arogan untuk menghadapi setiap kegiatan masyarakat pada umumnya dan lebih khusus menghadapi Demo Damai KNPB dan GempaR.

Undang -undang Rebuplik Indonesia No. 9 Tahun 1998 menyatakan bahwa dalam setiap kegiatan masyarakat baik Demo Damai, Pawai dan kegiatan lainnya tidak perlu surat izin. Namun, yang harusnya adalah surat pemberitahuan kepada kepolisian.

Oleh Sonny Dogopia, Aktivis Self-Determination, bergabung di Organisasi Politik dan saat ini berada di Komite Pimpinan Pusat Aliansi Mahasiswa Papua Biro Politik.*)

#Catatan Kecil Buat Advokasi Hukum.


Sudut Ibu Kota Negara West Papua, Mamta, Port Numbay.
29 Mei 2015.

Fotografer, John Douw | PosterFotografer, John Douw | Poster
Fotografer, John Douw | Spanduk, Bendera KNPB dan Megapon. Massa yang terpimpin di Tali Komando.Fotografer, John Douw | Spanduk, Bendera KNPB dan Megapon. Massa yang terpimpin di Tali Komando.

Sumber : Messi
Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Polisi Indonesia Melakukan Pengalihan

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: