Perang Yaman Untungkan Israel

Bangsa Yahudi memang lihai 
 
Kepentingan utama Israel dalam perang Yaman adalah mencegah menguatnya pengaruh Iran.

Perang antara pasukan pemberontak Houthi yang didukung Iran dan sekutunya melawan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi terus berlanjut, sekalipun di bulan suci Ramadhan.  Bahkan perang makin meluas ke daerah perbatasan Yaman - Arab Saudi. Perang makin tak terkendali dan menimbulkan semakin banyak korban rakyat sipil Yaman.

Pasukan koalisi terus menggempur basis-basis militer pemberontak Houthi pimpinan Badruddin Houthi, melalui serangan udara yang membabi buta. Sementara di sisi lain, di darat, rakyat Yaman yang dipersenjatai oleh pasukan Saudi juga semakin merangsek dan mulai berhasil merebut beberapa pos-pos militer pemberontak Houthi.

Meski demikian,  belum dapat  dikatakan bahwa pasukan Houthi berhasil dilumpuhkan. Hanya menurut pihak komandan pasukan koalisi, hingga kini tidak ada berita perlawanan berarti yang mereka lakukan. Justru yang banyak mereka lakukan adalah taktik-taktik gerilya kota, seperti menculik tokoh-tokoh politik dan masyarakat dan menempatkan senjata di perkampungan sipil. Pemberontak Houthi menyimpan senjata-senjata mereka di lapangan olahraga, sekolah dan tempat umum lainnya yang cukup strategis, hal ini untuk menghindari penyerangan sporadis dari pihak pasukan koalisi.

Kalaupun diserang, tentu akan menimbulkan opini bahwa serangan koalisi menyasar terhadap bangunan-banguan sipil.  Ada juga strategi lainnya, yang mereka lakukan yaitu memutus suplai air dan listrik untuk rakyat Yaman di daerah-daerah yang mereka kuasai. Hal ini sebagai bentuk penyanderaan mereka agar pasukan koalisi menyurutkan serangannya.

Harus diakui, pasukan Houthi memang cukup kuat. Melawan pasukan Houthi tanpa persiapan pasukan cadangan akan mengalami kekalahan. Di samping dipersenjatai lengkap oleh Iran, mereka juga punya pasukan cadangan dari militan rakyat Yaman yang merasa miskin bertahun-tahun selama dipimpin oleh pemimpin boneka Amerika. Diperkirakan, persenjataan mereka lebih lengkap dari militer Yaman sendiri. Saat mereka berhasil menguasai Yaman pada Januari lalu, mereka telah menjarah gudang-gudang senjata milik pemerintah. Belum lagi yang disuplai dari luar, misalnya  dari Iran dan sekutunya, Hisbullah Lebanon.

Jadi memang, Houthi benar-benar sudah dipersiapkan menjadi ujung tombak Iran untuk tujuan ekspansi terhadap negara-negara Arab yang selama ini pro-Israel. Tentu semua masih ingat, ketika Houthi berhasil merebut ibukota Shana'a, Iran menyambut hangat hal itu, kaum syiah bergembira. Bahkan saat itu, mereka katakan Shana'a kini menjadi ibukota keempat Iran setelah Beirut (Lebanon), Baghdad (Irak) dan Damaskus (Suriah).

Perang di Yaman semakin liar dan tak terkendali. Banyak kalangan mencemaskan perang Yaman. Tak hanya negara-negara Islam yang berbatasan dengan Yaman, tapi juga PBB ikut mengkhawatirkan situasi perang tersebut. Kini yang terjadi di Yaman, kecenderungannya semakin tidak terkendali.

Upaya PBB menghentikan perang Yaman terus dilakukan, seperti dalam sepekan terakhir, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang pada intinya menekan pihak Houthi, untuk segera meninggalkan lokasi-lokasi gedung pemerintahan Yaman yang dikuasai.

Pengamat politik Timur Tengah yang juga Direktur BESA (Begin-Sadat Center For Strategic Studies), Prof. Efraim Inbar mengatakan, secara tidak langsung perang Yaman yang melibatkan Arab Saudi sangat menguntungkan Israel. Kepada Jerusalem Post,  ia mengatakan ada kepentingan Israel pada kemenangan koalisi Arab Saudi atas pasukan Houthi Yaman. �Kepentingan Israel adalah menghapuskan pengaruh Iran di Yaman. Hal ini berlaku juga di Suriah, bila Assad dapat dijatuhkan,� ujar Inbar.

Menurut informasi yang didapat Efraim Inbar, Mesir telah siap untuk mengerahkan kekuatan udara, laut, dan bahkan pasukan daratnya untuk bergabung bersama Arab Saudi dan juga negara Timur Tengah lainnya. Israel selama ini mengkawatirkan penyebaran paham Syiah Iran ke dalam Irak dan Yaman, terutama terkait dengan program nuklir Iran.

Daniel Pipes, Presiden Forum Timur Tengah berpusat di Philadelpia, menulis di The Washington Times, bahwa cara orang-orang Arab yang telah bersatu untuk melawan Iran, menunjukkan bahwa konflik Israel-Palestina tidak lagi sebagai prioritas yang paling mendesak di wilayah tersebut.

Menurut Pipes, meski orang-orang Arab telah berkoalisi 1949,1967 dan 1973 melawan Israel, namun mereka melakukannya dengan tidak efektif sehingga selalu menemui kegagalan, kini mereka pada akhirnya bersatu dengan mentor Israel yang punya sistem perang paling efektif, tidak untuk melawan Israel, tapi untuk melawan Iran.

Chuck Freilich, peneliti senior di Belfer Center of Harvard�s Kennedy School dan mantan penasihat keamanan nasional Israel, mengatakan, kepentingan utama Israel dalam perang Yaman adalah mencegah menguatnya pengaruh Iran  dan untuk memastikan lebih amannya lalulintas Israel melalui Laut Merah.

Bangsa Yahudi memang lihai. Lelah berperang melawan Palestina, mereka dengan mudahnya mengadu domba sesama negara muslim di sekitarnya. Kini, untuk sementara Israel bisa istirahat sambil menikmati indahnya perjalanan melalui Laut Merah.   

Editor: Satrio AN
Sumber Foto: http://img.eramuslim.com/
- See more at: http://indonesianreview.com
Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Perang Yaman Untungkan Israel

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: