MELANESIA PAPUA BARAT - REALITAS DAN KEBEBASAN

Manusia sejak lahir, ia lahir bersama dengan hak-haknya atau dengan kata lain, ada hak-hak yang melekat dalam diri seseorang dan dibawah sejak lahir. Hak-hak mendasar itulah yang disebut dengan hak-hak asasi manusia. Hak-hak dasar itu tidak boleh diinterfensi apalagi dicabut oleh orang lain kecuali Allah penciptaNya. Akan tetapi secara empiris, hak-hak hakiki yang dimiliki setiap manusia ada saja dan selalu dibatasi oleh kekuasaan dan kekuatan asing dari luar diri manusia itu sendiri. Bahkan kekuatan asing itu selalu berlebihan dan tindakannya menurunkan derajat manusia dan menyamakannya dengan binatang.

Salah satu dari hak-hak hakiki itu adalah hak memperoleh kebebasan yang berarti bebas dari rasa takut, bebas mengekspresikan ide-ide positif untuk mengembangkan diri dan mempertahankan eksistensinya.

Dari fakta empiris ini lahirlah ide-ide brilliant dari tokoh-tokoh pemikir dan berperadaban tinggi di dunia untuk melindungi hak-hak hakiki setiap manusia dan ide-ide itu disepakati dan dideklarasikan bersama serta menjadi kepedulian komunitas dunia melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa /PBB yang disebut dengan Deklarasi Hak-Asasi Manusia - HAM.

Sejarah menyaksikan dan mencatat bahwa orang-orang Papua Melanesia sebagai bagian dari komunitas dunia, hak-haknya terutama hak politik dikorbankan oleh komunitas dunia dan lebih khusus dibawah satu sistim dimana orang Papua diperlakukan tidak lebih dari binatang piaraan yang dimasukan dan dipindahkan dari kandang yang satu ke kandang yang lain. Dari Belanda ke UNTEA ( PBB), dari UNTEA ke Indonesia secara tidak adil yang pada akhirnya mengorbankan rakyat Papua Barat hingga detik ini.

Ditambahkan pula pemerintah Indonesia, dalam praktek kenegaraan di tanah Melanesia Papua Barat , dari rezim yang satu ke rezim yang lain selalu mengabaikan hak-hak dasar seperti yang sudah disepakati bersama melalui PBB di semua sektor kehidupan, baik ekonomi, social budaya, keamanan, dan terutama politik.

Contoh yang terjadi di Papua Barat selama 50 tahun ini, sangat jelas dimana hak untuk mengekspresikan pendapat orang Papua melalui hak berkumpul , menyampaikan pendapatnya ditempat terbuka dalam aksi damai tidak diijinkan oleh pihak pemerintah Indonesia yang akibatnya para aktifist-aktifist Papua tersebut selalu mendapat terror dari pihak TNI POLRI - militer dan keamanan Indonesia bahkan sebagian besar pemimpin -pemimpin Papua Barat ditangkap dan dipenjarakan hidup bertahun-tahun dibalik terali besi Indonesia dan ada yang mati secara misterius masih terus terjadi.

Demikian realitas hidup dinegerinya sendiri Papua Barat.

@hermanwainggai.com
Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : MELANESIA PAPUA BARAT - REALITAS DAN KEBEBASAN

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: