Tolikara Sudah Kondusif, Kapolda dan Pangdam Bantah Adanya Pembakaran Mushala

Korban penembakan oleh aparat pada peristiwa Tolikara

JAYAPURA-Kapolri Jenderal Pol. Badrodin Haiti menyatakan bahwa situasi Kamtibmas di Karubaga ibukota Kabupaten Tolikara  sudah kondusif pasca insiden Jumat (17/7). Hal ini disampaikan Kapolri Badrodin Haiti kepada wartawan di VIP Room Bandar Udara Sentani usai melakukan peninjauan di Karubaga ibukota Kabupaten Tolikara, kemarin (19/7).

Kapolri Badrodin Haiti mengatakan, kunjungannya ke Karubaga untuk melihat secara langsung perkembangan di Kabupaten Tolikara pasca insiden yang terjadi pada perayaan Idul Fitri, Jumat (17/7) lalu. Meskipun situasi Kamtibmas di Karubaga sudah kondusif, namun menurut Badrodin Haiti   sejumlah warga masih ditampung di tenda-tenda darurat di halaman Koramil Karubaga.

Pasca insiden ini menurut Kapolri Badrodin Haiti proses rehabilitasi sedang dilakukan di Tolikara. Kios dan mushala yang terbakar dalam insiden itu menurutnya akan segera dibangun secara permanen sehingga masyarakat yang menempatinya bisa lebih nyaman. �Masyarakat juga sudah sepakat untuk menjaga kedamaian. Untuk itu, saya minta semua pihak baik masyarakat tokoh-tokoh gereja, aparat pemerintah daerah  maupun adat untuk membantu agar semuanya bisa selesai,� ujarnya.

Mengenai penanganan insiden di Karubaga, Kapolri Badrodin Haiti mengatakan, kepolisian belum menetapkan tersangka dalam kasus pe�nyerangan dan pelemparan yang dilakukan sekelompok warga. Namun Kapolri menegaskan bahwa Polri masih melakukan penyelidikan terkait insiden ini termasuk penembakan yang mengakibatkan 1 warga tewas dan 11 lainnya mengalami luka tembak. Warga sipil yang tertembak ini diduga melakukan pelemparan dan penyerangan terhadap warga yang sedang menunaikan Shalat Idul Fitri.  �Ini adalah pelanggaran hukum dan negara kita adalah negara hukum. Oleh sebab itu, penyerangan maupun penembakan akan diselesaikan secara hukum,� tegas Kapolri.

Dikatakan, Polri saat ini masih melakukan identifikasi terhadap oknum warga yang melakukan penyerangan dan pelemparan. Apabila dalam penyelidikan ini ditemukan cukup bukti, maka oknum warga yang diduga melakukan penye�rangan dan pelemparan tetap akan diproses hukum untuk mem�pertanggungjawabkan perbuatannya.
Dalam penanganan insiden di Tolikara ini, Kepolisian menurutnya juga akan meminta ke�terangan dua orang yang menandatangani surat edaran dari Gereja Kristen Injili di Papua (GIDI). Terkait surat edaran ini, menurut Kapolri juga sudah ada klarifikasi bahwa terdapat miskomunikasi terkait surat ederan dari GIDI yang disampaikan ke berbagai pihak.

Jadi mereka sudah klarifikasi bahwa setelah tanggal 15 Juli, kapolres telah melakukan komunikasi  dengan bupati yang kemudian dikomunikasikan kepada pihak panitia penyelengga�ra kegiatan KKR dan seminar GIDI namun perubahan surat tersebut belum diserahkan. Jadi mereka mengklarifikasi bahwa ada miskomunikasi sehingga belum tersosialisasi ke masyarakat.

Kapolri menambahkan bahwa untuk penanganan di Tolikara pihaknya tidak melakukan penambahan pasukan. Sebab selain kondisi keamanan yang sudah kondusif, semua pihak di Kabupaten Tolikara juga telah memberikan jaminan keamanan.  Sebelum Kapolri melakukan kunjungan ke Tolikara, pasca insiden, Wakapolda Papua Brigjen Pol. Drs. Rudolf Albert Rodja didampingi sejumlah pejabat Polda Papua termasuk Kasat Brimob Polda Papua dan Kapolres Jayawijaya bersama satu pleton anggota Brimob Polda Papua serta satu pleton gabungan Sabhara dan Timsus Polres Jayawijaya, tiba di Karubaga, Jumat (17/7) malam pukul 19.00 WIT melalui jalan darat dari Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Setibanya di Karubaga, Wakapolda langsung menggelar apel dan melakukan upaya pencegahan agar konflik yang terjadi tidak melebar.

Sementara itu, Kapolda Pa�pua, Irjen Pol. Yotje Mende dan Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Fransen G Siahaan juga telah melakukan peninjauan di Karubaga, Sabtu (18/7).  Kapolda dan Pangdam yang tiba sekitar pukul 09.00 WIT, langsung melakukan peninjauan lokasi kejadian dan mengunjungi warga yang menjadi korban kebakaran. Setelah itu, dilanjutkan dengan rapat koordinasi TNI dan Polri di Pos Ramil Karubaga.

Usai rapat koordinasi, Kapolda Yotje Mende dan Pangdam Fransen Siahaan bersama Bupati Tolikara Usman G Wanimbo meninjau lokasi kejadian. Setelah peninjauan dilakukan rapat bersama yang melibatkan anggota Polda Papua, Kodam XVII/Cenderawasih, DPR Papua, GIDI, pemilik kios, Pemkab Tolikara, DPRD Tolikara, Polres Jayawijaya dan Kodim 1702/Jayawijaya.

Dalam rapat tersebut, Kapolda Yotje Mende menjelaskan bahwa kedatangannya ini untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mencari solusi serta melakukan penegakan hukum.  �Tujuan kami adalah mencari kedamaian, mencari solusi terkait dengan kejadian musibah yang terjadi di sini dan dengan kejadian ini saya dengan jajaran dan juga Pangdam sedih dan prihatin atas musibah ini,� tuturnya dalam rapat yang juga terbuka untuk media massa.

Kapolda Yotje Mende menyebutkan yang terjadi ini adalah musibah karena semua pihak tidak menginginkan terjadinya pembakaran dan juga penembakan. Oleh sebab itu, ia meminta tidak perlu ada dendam dan semua pihak harus menerimanya dengan kesabaran dan bersama-sama mencari solusi. Dirinya sebagai Kapolda sebagai penanggungjawab Kamtibmas dan Pangdam sebagai penjaga kedaulatan mengajak bersatu padu untuk mencari solusi terbaik. Kapolda juga mengharapkan adanya perhatian kepada korban yang kehilangan tempat tinggal yang terbakar dan juga terkena lemparan batu termasuk korban yang mengalami luka tembak. �Kita juga meminta ada keterpaduan untuk mencari solusi terbaik agar muncul kedamaian dan penegakan hukum akan dilakukan sebagai upaya terakhir bila adanya pelanggaran hukum agar tidak berkembang,�katanya.

Sementara itu, Pangdam XVII/ Cenderawasih, Mayjen Fransen Siahaan mengatakan siap untuk membantu pene�gakan hukum dengan mencari fakta di lapangan baik itu fakta internal dan eksternal.

Menurut Pangdam hal yang penting juga adalah mencari pemicu konflik yang ditenggarai bahwa terlebih dahulu ada selebaran-selebaran yang peraturan bupati yang menyebutkan tidak bisa bersembahyang de�ngan suara terlalu keras. Namun semua ini menurutnya perlu adanya pembuktian. Pangdam juga menegaskan perlunya dilakukan penyelidikan untuk mengungkap oknum atau pihak-pihak yang memprovokasi masyarakat sehingga terjadinya insiden di Karubaga.

Dalam rapat tersebut, Pangdam juga memberikan klarifikasi terkait isu yang beredar baik melalui media massa maupun media sosial yang menyebutkan umat Kristen di Papua membakar masjid. Pangdam menyayangkan isu tersebut, sebab tidak sesuai dengan kejadian di lapangan.  �Jadi rekan-rekan wartawan agar ini diluruskan bahwa tidak ada pembakaran musala tetapi pembakaran kios yang kemudian merembet ke kiosnya lainnya termasuk ke mushala. Soal fakta sebelum kejadian ada pelemparan batu, harus dicari tahu pelakunya,� tegas Pangdam.

Pangdam juga mengharapkan pemeriksaan dan penindakan harus dilakukan dengan terpadu dengan melibatkan masyarakat dan tokoh-tokoh lainnya yang endingnya ada kedamaian dan perdamaian tanpa harus menya�lahkan satu sama lain. �Kita buktikan aksi dengan kebersamaan dengan membuktikan bahwa kasih itu benar-benar kita tunjukan dengan kasih maka mari kita lakukan aksi kebaikan agar tidak ada provokasi dan hasutan lagi,� pintanya.

Pangdam juga mengatakan bahwa sesungguhnya yang ada di lapangan adalah situasinya yang sangat sulit untuk dihindari maka kedepan tantangan adalah bagai mana Polisi dan TNI siap membantu Pemda Tolikara dan masing-masing membuat rencana aksi yang jangan hanya dibicarakan saja. 

Sementara Bupati Tolikara, Usman G. Wanimbo menjelaskan bahwa pihaknya juga akan menanggung kerugian dan berusaha membangun kembali kios yang terbakar. Bupati Usman Wanimbo juga akan segera memfasilitasi pertemuan tokoh agama Islam dan Nasrani dalam hal ini GIDI.  �Selaku Bupati saya meminta maaf kepada Warga Muslim atas penyerangan yang dilakukan oleh oknum pemuda Tolikara dan meminta maaf kepada korban penembakan anak asli Tolikara,� ucapnya.

Di tempat yang sama, Presiden GIDI, Pdt. Dorman Wandikbo menjelaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak menginginkan sejadian tersebut apalagi saat ini sedang berjalan kegiatan seminar GIDI. Oleh sebab itu, pihaknya meminta maaf atas insiden ini.  �Kegiatan Muslim tersebut sebenarnya sudah disampaikan kepada kami dan Bupati. Pada waktu kegiatan tersebut kami menanggapi dengan baik dan ada surat yang sudah disampaikan dengan gereja  bahwa tidak boleh melaksanakan kegiatan teman-teman Muslim. Saya sebagai pemimpin gereja tidak mungkin melarang orang menjalankan agama, maka kami sampaikan kepada teman-teman silahkan beribadah tetapi jangan diluar maka mungkin itu yang terjadi,�tambahnya.

Dirinya sebagai atas nama GIDI juga memohon maaf atas kejadian yang dilakukan anak-anaknya atas dasar emosional maka terjadi mereka turun untuk menyampaikan aspirasi dan diluar dugaan terjadi konflik tersebut. Ia juga meminta maaf kepada aparat Kapolres Tolikara dan jajarannya atas kesalahan yang dilakukan anak-anak Tolikara yang bertindak secara emosional. Pdt. Dorman menegaskan bahwa di Tolikara tidak ada konflik antar umat bergama seperti yang berkembang di luar Papua. Sebab insiden yang terjadi Jumat (17/7) lalu diluar kendali.

Dalam pertemuan itu, Pdt. Dorman juga menyampaikan bahwa dalam insiden ini kerusakan tidak hanya dialami oleh warga non papua atau muslim tetapi ada juga kios milik orang asli Papua dan juga yang beragama Kristen yang ikut terbakar. Pdt. Dorman juga mempertanyakan penanganan dan proses hukum terkait penembakan warga sipil yang mengakibatkan satu orang tewas dan 11 lainnya mengalami luka tembak.

Menanggapi hal tersebut, Kapolda Papua menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan pemeriksaan guna mengungkap pelaku pembakaran termasuk yang melakukan provokasi atau menghasut. Demikian pula dengan penembakan yang dilakukan terhadap warga, Kapolda Yotje Mende menegaskan akan dilakukan pemeriksaan secara transparan. �Kami akan periksa secara transparan, apakah penembakan yang dilakukan sesuai prosedur atau tidak. Jika tidak, tetap akan dilakukan penindakan,� tegasnya. (jo/gin/cr-197/nat)

Kronologis Kejadian di Karubaga, Kabupaten Tolikara

Kamis (17/7) pukul 07.00 WIT, ratusan umat Islam melakukan Shalat Ied di halaman Koramil Karubaga.

Sekelompok orang berteriak untuk membubarkan umat Islam yang menunaikan Shalat Ied

Aparat Polri dan TNI yang ditugaskan berusaha membubarkan sekelompok orang yang berusaha membubarkan pelaksanaan Shalat Ied. Karena massa yang banyak, aparat tidak mampu mendesak kelompok yang memaksa membubarkan diri dan meninggalkan lapa�ngan Koramil.

Aparat mengeluarkan tembakan peri�ngatan dengan peluru karet dan hampa berulang-ulang.

Masyarakat semakin marah dan men�desak masuk ke pelaksanaan Shalat Ied hingga ke pagar antara kios dengan lapangan Pos Ramil Karubaga tempat digelar Shalat Ied.

Bupati dan Kapolres Tolikara melakukan negosiasi dengan kelompok warga yang hendak membubarkan pelaksanaan Shalat Ied.

Pukul 07.25 WIT, salah satu kios terbakar bersama mobil yang ada di depan kios. Api merembet ke kios lain yang terbuat dari kayu hingga merembet ke Musala.

Data Kerugian Material

54 Kios dan isinya terbakar
1   Musala terbakar
3   Motor terbakar
1   Mobil terbakar

Baca juga Pernyataan SikapPresiden GIDI

Sumber : RadarSorong

Pertikaian-di-tolikara-11-orang-terluka
** 1 korban penembakan meninggal
Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Tolikara Sudah Kondusif, Kapolda dan Pangdam Bantah Adanya Pembakaran Mushala

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: