Ternyata Ruang Demokrasi di Papua Masih Tertutup

Mengapa hingga saat ini ruang demokrasi diatas tanah Papua masih saja dibungkam?
Ada apa?
Pemerintah indonesia melalui aparat begitu berhati-hati dalam menangani berbagai aksi-aksi yang digelar oleh berbagai elemen masyarakat yang ada di Papua.

Padahal dimasa kepemimpinan Joko Widodo ini, sangat diharapkan dengan adanya keterbukaan.
Tak lagi perlu untuk membatasi rakyat dalam menyampaikan aspirasi selama apa yang disampaikan dengan cara-cara damai.
Ternyata harapan pada presiden indonesia itu memang dan mungkin saja sia-sia. Aparat sangat berkuasa untuk membubarkan, bahkan menangkap para aktivis.
Inikah indonesia yang berbhineka tunggal ika? berbeda-beda tapi tetap satu.
Ternyata tetap satu itu adalah memaksakan kami untuk tetap mengikuti apa yang tidak seharusnya kami ikuti.
Bagaimana kami akan bangga jika, cara perlakuan yang kami dapatkan terus seperti ini dari waktu ke waktu?

Tadi siang aksi yang digelar terkait dengan kasus penembakan yang terjadi di Paniai dan Timika, kembali aksi tersebut dibubarkan, massa aksi diamankan.

Silahkan baca berita dari link dibawah ini dan saksi mata dilapangan:

1. Polisi Bubarkan Aksi Demo Damai SKP-HAM Secara Brutal 
2. Polisi Dinilai Belum Memahami Arti Hukum
3. Sejumlah Biarawan Katolik Peduli HAM Ditangkap Polisi di Abepura
4. Liput Demo, Polisi Rampas Kamera Wartawan dan Menghapus Seluruh Foto
5. Ini Nama-Nama Aktivis HAM dan Para Frater Yang Ditangkap Polisi

 ---------------------------------------------------------

POLISI BUBARKAN PAKSA AKSI SKP HAM DI ABEPURA

Ketika orasi masih berlangsung di depan ruko yg berhadapan dengan Gereja Katolik Gembala Baik, Abepura (Jayapura), saya berdiri sambil memotret di belakang massa aksi yang tergabung dalam Solidaritas Korban Pelanggaran (SKP) HAM Papua. Masa aksi ini memegang serangkaian spanduk dan poster.
Tiba-tiba dari depan saya melihat sebuah truk Dalmas yg melaju kencang dari arah Kotaraja. Di dalam truk Dalmas yg melaju terburu-buru ini berisi anggota polisi dan brimob bersenjata lengkap. Truk Dalmas itu tiba-tiba menikung dan menuju masa aksi di barisan depan yg berdiri memegang spanduk dan sepertinya hendak menabrak mereka tiba-tiba. 

Melihat truk Dalmas Polisi yg melaju lalu berbelok ke arah mereka, masa aksi lalu bubar seketika utk menghindari tabrakan. Truk ini lalu berhenti seketika dan dari dalam para anggota polisi dan brimob yg bersenjata lengkap melompat turun. Para anggota polisi dan brimob lalu membubarkan paksa, menangkap dan meninju wajah beberapa aktivis yg tidak sempat menghindar. 

Melihat situasi yg sedang kacau (chaos), sy lalu mencari posisi yg tepat untuk memotret pembubaran paksa aksi damai ini. Namun beberapa polisi dan brimob yg kesal melihat sy memotret kejadian ini, berlari menuju saya. Sekitar 4 orang dari mereka menarik jaket dan baju sy dengan keras lalu menyeret sy dengan paksa ke tepi ruko.
Seorang intel berpakaian preman dari arah belakang tiba-tiba dtg memukul kepala sy dgn cukup keras dari belakang. Tidak hanya itu, para polisi juga berusaha merampas kamera dari gengaman tangan saya. Mereka membentak sy dan memaksa agar sy harus segera menghapus beberapa photo ketika sy memotret mereka saat membubarkan masa aksi secara paksa. 

�Ehh ko stop photo-photo, ko wartawan mana? Ko cepat hapus photo-photo itu. Mana photo-photo tuh, cepat ko buka dan hapus sudah. Kalo ko tra mo hapus, tong akan kase hancur ko pu kamera dan tong pukul ko nanti,� begitulah kata-kata mereka membentak sy.
Beruntung, datang seorang teman wartawan Cenderawasih Pos yg saya kenal dari arah sudut ruko. Kawan wartawan ini lalu meneriaki dan memprotes para polisi dan anggota brimob yg tadi menyeret, memukul dan menahan sy di sisi ruko. Kawan wartawan ini juga mengatakan kepada polisi bahwa saya adalah wartawan dan tidak benar jika para polisi menghalang-halangi tugas wartawan ketika memotret dan meliput aksi semacam ini. 

Kami sempat bertengkar dan beradu argumentasi dengan mereka bebrapa saat sehingga para polisi dan anggota brimob ini lalu menyuruh saya mengeluarkan kartu pers dan mendesak sy segera meninggalkan lokasi kejadian. Karena kalau tidak mereka akan mengambil kamera saya dan menghancurkannya.
Ketika mereka melepas sy untuk pergi, saya lalu bergegas mencari posisi lain untuk mencoba memotret aksi pembubaran paksa ini lagi dari jarak yg agak jauh. Namun sialnya, seorang intel berpakaian preman datang dari arah samping lalu mendorong saya, menarik sy dan membentak sy agar segera pergi. Dia sempat mengatakan: �ko mo pergi ka tidak, kalo trada ko dapa pukul nanti...�

Saya kemudian bergegas meninggalkan lokasi kejadian dengan masih memegang kamera di tangan. Tapi sy tidak puas. Sy lalu berusaha menyelinap dibalik mobil-mobil yg terpakir di depan restaurant Kopitiam, sebuah usaha francise milik penguasaha Malaysia yg lokasinya tak jauh dari tempat kejadian.
Dari arah yg tdk terlalu jauh, saya sempat melihat sejumlah aktivis diseret paksa lalu dimasukan ke dalam truk Dalmas polisi. Saya tidak tahu para aktivis dan pegiat HaM yg ditangkap ini akan dibawa kemana nantinya. Polda. Polres, atau Polsek? Saya tidak tahu saat itu. Yang pasti, saat aksi dibubarkan paksa, sejumlah aktivis sempat ditinju mukanya, dipukuli, ditempeleng dan ditendang. Mereka diseret dan dilempar masuk ke dalam truk Dalmas polisi. 

Dapat diperkirakan, aksi Solidaritas Korban Pelanggaran (SKP) HAM Papua yg mengambil titik kumpul di depan ruko yg berada bersebelahan dengan Gereja Katolik Gembala Baik Abepura ini dibubarkan secara paksa oleh polisi sekitar pukul 15.02 WP. Aksi dimulai pukul 13.35 WP dan sempat berlangsung selama dua jam lebih yg diwarnai sejumlah orasi sebelum akhirnya dibubarkan paksa oleh polisi.
(Photo : Negosiasi polisi dan penanggung jawab aksi (sdr. Peneas Lokbere dan Yuliana Langowuyo, namun pihak polisi tetap ingin membubarkan paksa aksi sesuai perintah Kapolda Papua, Irjenpol. Drs. Paulus Waterpauw) Sumber: Paradisearudolphi
Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Ternyata Ruang Demokrasi di Papua Masih Tertutup