Dimana Ada Perjuangan Pasti Ada Penghianat


Sarlei Tanoi yang bakar bendera bangsa Papua, bintang fajar. Ia tentu dipakai kolonial Indonesia untuk memicu konflik kekerasan di Papua. Dia adalah satu dari beberapa anak negeri yang telah direkrut dan dipelihara untuk menghalau perjuangan bangsa Papua. Biasanya orang-orang seperti ini terpaksa memilih untuk berkhianat demi mencari uang dan jabatan dari penguasa kolonial Indonesia. Aksi mereka, sekalipun kecil, dikawal dan difasilitasi negara penjajah (Indonesia). Aksi ini dibuat sekedar mencari sensasi media masa, terutama media nasional yang wartawannya telah dibayar agar membuat pemberitaan. Wartawannya akan menulis berita seakan-akan aksi itu besar dan mewakili aspirasi rakyat Papua, padahal hanya satu atau dua orang.

Rakyat Papua sudah pintar. Mereka tidak akan sebodoh itu dipakai sebagai alat untuk menghianati bangsanya, apalagi itu menyangkut harkat dan martabatnya. Dia, Sarlei Tanoi, dan penjajah yang memperalat dia, tidak sadar bahwa perbuatan itu justru akan melukai hati 2,5 juta rakyat West Papua di dalam maupun di luar negeri. Mereka tidak tahu bahwa 319 lebih suku yang mendiami tanah Papua, saat melihat benderanya dibakar, justru membakar semangat perlawanannya. Ketika Sarlei membakar bendera sambil berdoa dan mengutuki, dia tidak sadar bahwa dia sedang melawan doa, tangisan dan darah jutaan rakyat Papua yang sudah sedang Tuhan dengar dan tampung selama 54 tahun penderitaan di bawa kolonial Indonesia.

Bagi KNPB dan tentu rakyat Papua, Sarlei dan penguasa kolonial Indonesia hanyalah kelompok reaksioner yang sedang "menari dalam irama perlawanan yang sedang didendangkan" oleh KNPB dan rakyat Papua. Itu hal yang biasa, dimana ada perjuangan pasti ada penghianat. Toh, perjuangan Yesus saja ada Yudas yang jadi penghianat. Perjuangan kemerdekaan Indonesia, Timor Leste, dll., pun selalu ada yang menghianati. Anda saksikan sendiri nasib hidup orang Timor Leste yang kini terlantar di Indonesia, bahkan di Papua hanya karena menyangkal tanah airnya.

KNPB tetap menganggap Sarlei dan mereka yang lain sebagai korban hegemoni kolonial yang sementara tersesat. Kita mesti bebaskan hati dan pikirannya yang sedang ditawan oleh kolonial Indonesia yang menjajah dan menguasai tanah airnya. Kita mesti selamatkan dia sebelum ia mati meninggalkan cerita sebagai penghianat bagi anak cucunya, keluarga dan sukunya kelak.

Perjuangan Papua Merdeka itu ibarat batu besar yang sedang bergulir turun dari ketinggian, apapun halangannya, batu itu akan mendobrak alias "pele putus, melintang patah", hingga sampai di lembah perhentian: kemerdekaan.


Catatan dari West-Papua-National-Committee-KNPB Ini video pembakaran BK:

Related : Dimana Ada Perjuangan Pasti Ada Penghianat