Bangsa Papua Dihina, Ormas dan Sultan Harus Minta Maaf

Seorang anggota ormas tunjukan jari tengah (fuck) kepada mahasiswa Papua didalam asrama

Yogyakarta merupakan salahsatu kota tujuan pendidikan, dikota ini mahasiswa asal Tanah Papua jumlahnya sudah mencapai ribuan. Aktif berstudy diberbagai kampus yang ada di Jogja, baik kampus ternama maupun kampus yang biasa-biasa saja.

Mengapa mahasiswa Papua harus keluar jauh dari daerah asal untuk kuliah di Jogja, salahsatu alasannya adalah karena didaerah asal di Papua, tidak ada universitas atau jurusan yang diinginkan.

Mahasiswa Papua yang aktif, mengerti dan sadar dengan gejolak ditanah airnya tentu tidak tinggal diam dan menonton atau mendengar saja. Ikut terlibat dalam berbagai ruang yang ada untuk sampaikan aspirasi dan dukungan juga kritik terkait daerah. Seperti situasi pada akhir desember 2014 dimana terjadi penembakan atas 4 orang siswa yang hingga saat ini belum  tuntas siapa pelaku penembakan tersebut, padahal sangat jelas dari kesaksian para korban.
Kepedulian mahasiswa ini juga terkait dengan masalah sejarah dan pencaplokan wilayah yang bagi sekelompok orang itu final tetapi tidak dengan separuhnya lagi. Disejarah jelas ada sesuatu yang salah, yang harus segera diselesaikan. Dan lagi mahasiswa Papua masih sering eksis untuk menuntut pada negara agar membuka ruang demokrasi dan bebas untuk menyatakan Hak Menentukan Nasib Sendiri.

Di Yogyakarta hampir semua mahasiswa Papua  dari berbagai  kabupaten sudah punya organisasi, dan organisasi induk untuk persatuan Papua di Jogja yaitu Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua. IPMA-Papua  dalam beberapa waktu lalu mengeluarkan statemen atau pernyataan tentang Eksodus.

Apa itu Eksodus ?
Eksodus adalah keluar dari suatu tempat yang biasanya ditempat tersebut sudah tidak bisa ditinggalkan atau tidak aman lagi, penyebab eksosdus sangat banyak, umumnya disebabkan oleh perang atau genocide... seperti kasus perang antar etnis hutu dan tutsi di Afrika yang akhirnya menyebabkan negara Rwanda dan saling Burundi berperang karena disalah satu negara tersebut masing-masing mempunyai etnis yg besar

Lalu bagaimana dengan mahasiswa Papua di kota Yogyakarta, apakah sudah tidak aman dalam beraktivitas sehingga harus eksodus, ataukah sebenarnya eksodus hanya alibi dari situasi politik yang lagi menghangat? Tentunya ada alasan yang tepat sehingga pernyataan itu keluar, ketidaknyamanan ini telah sampai pada puncaknya sehingga sikap eksoduslah yang menjadi solusi untuk mahasiswa Papua, Tanah Papua Panggil Pulang.
 
Pernyataan Eksodus keluar setelah, beberapa waktu sebelumnya ada agenda aksi tetapi polisi dan ormas reaksioner lebih dahulu mengepung asrama Papua Kamasan I. Dalam pengepungan ini ada beberapa ormas yang meneriakan kata-kata rasis, seperti "Monyet, Kafir, Anjing, Babi dan separatis" Dalam aksi itu juga polisi menangkap beberapa mahasiswa di jalan belakang asrama Papua. 
Sri Sultan ikut mengeluarkan pernyataan yang dimuat dimedia tentang "Tak ada tempat bagi separatis di Jogja". Pernyataan sultan sebagai raja jogja selanjutnya akan ditaati dan dilaksanakan oleh ormas-ormas reaksioner yang ada. Dan itu berarti ruang untuk menyampaikan berbagai aspirasi untuk mahasiswa Papua dibungkam. Di Papua ruang demokrasi sudah tertutup apalagi di Jogja, sudah ditutup. 


Bagi saya, soal separatis silahkan sah-sah saja seorang pemimpin wilayah sampaikan, tetapi soal penghinaan atas mahasiswa Papua yang notabene berbeda bangsa dan dihina sampai disamakan dengan monyet, lalu kafir, anjing, babi  haruslah diproses. Ini adalah satu bentuk penghinaan atas bangsa Papua. Diam dan biarkan berarti pandangan mereka terhadap bangsa kita akan selamanya begitu. Sehingga segenap bangsa Papua, dari lapisan bawah sampai atasan harus berkomitmen untuk mendesak Ormas-ormas reaksioner yang terdiri dari paksikaton, laskar jogja, pemuda pancasila dan Sultan sebagai raja Jogja harus menyampaikan permintaan maaf atas penghinaan terhadap Bangsa Papua.

Apa yang terjadi jika Eksodus itu kemudian terlaksana, ribuan mahasiswa Papua yang kuliah di Yogyakarta siap kembali ke daerah asalanya. Mari berhitung sederhana sumbangan tak terkira dari mahasiswa Papua di Yogyakarta:

1 mahasiswa mendapatkan kiriman sebulan Rp. 1.000.000 x 7.000 mahasiswa = Rp. 7.000.000.000 x 12 (bln) = Rp. 84.000.000.000 setahun.

Biaya kos 1 bulan untuk putra = Rp. 400.000 x  12 bulan = Rp. 4.800.000 x 4 tahun = Rp. 19.200.000
Biaya kos 1 bulan untuk putri = Rp. 500.000 x 12 bulan = Rp. 6.000.000  x 4 tahun = Rp. 24.000.000

Hitungan sederhana saja seperti yang  diatas hanyalah sebuah gambaran, yang lebih paham tentunya kawan-kawan ekonomi. Jelaslah ketika mahasiswa Papua tinggalkan yogyakarta maka akan berdampak pada beberapa usaha kos-kosan dan sebagainya.


Salam Juang

Catatan +Phaul Heger 
West Papuan Aktivis
Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Bangsa Papua Dihina, Ormas dan Sultan Harus Minta Maaf

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: