Kopi Hitam, Welcome November


Segelas kopi hitam diatas meja tersaji masih hangat. Aroma sedap khas tercium. Udara pagi nan sejuk menyeruak.
Diwarung tepi jalan agak pinggiran kota, duduk manis, asap mengepul dari sebatang rokok yang menyala.
Dingin pagi ini dapat kutepis dengan hangatnya kopi. Jemari bermain lincah menekan tombol tombol huruf tanpa henti.
Pikiran kesana kemari mencoba mencari kata kata yang tepat untuk dirangkai.
Samar satu dan dua kendaran melaju berkejaran memecah keheningan pagi. Tembang lawas siaran pagi dari radio yang sengaja diputar sang pemilik warung. Menambah hangat nan romantis pagi ini.
Dikejauhan orang orang jalan pagi ada yang berlarian yang lainya berjalan santai. Suasana khas kala pagi datang. Olahraga itu penting dan menyehatkan. Sudahlah itu urusan mereka.
Perlahan tapi pasti kuteguk kopi sedikit demi sedikit. Begitu pula rokok yang tetap mengeluarkan asapnya.

Ini awal bulan tepatnya 1 November 2016, oktober telah berlalu dengan berbagai persoalannya. Misteri di november. Apa yang akan terjadi? Masih adakah secercah harapan akan kedamaian ditanah ini? Oh Papua katanya surga kecil yang jatuh ke bumi tetapi kerakusan dan nafsu serakah telah menutupi matahati.
Sipemilik negeri diabaikan dan dibiarkan dalam tuntutannya. Kata mereka; belum waktunyalah, merdeka itu sudah apalagi saat ini masih bersama. Tetapi keinginan yang sebenarnya yang lahir dari sepemilik negeri sendiri diabaikan. Keinginan itu telah dinyatakan secara sah diatas wilayahnya, sebagai sebuah bangsa yang berhak merdeka setara dan sejajar. Tapi kenapa keadilan tak berpihak? Tuntutan merdeka diganti lalu alasan pendidikan, ekonomi, kesejahteraan sebagai tameng. Program pembangun yang digenjot dan mengejar target agar ada kesetaraan harga. Hah? Setengah abad telah berlalu dan kau si penjajah masih memakai alasan yang sama. Oh tidak; rakyat sudah sadar, merdeka adalah hak. Bebas dari segala bentuk penjajahan adalah hak. Menjadi bangsa merdeka juga adalah sebuah hak.
Setengah abad gejolak perlawanan bertahan dan terus menuntut tetapi masih saja rezim ini tak mengakui. Tak apalah....pastinya nasionalisme Papua tak mati, tekad yang bulat untuk bebaskan tanah telah terpatri dalam jiwa. Raga boleh kau rebut tapi roh kemerdekaan tidak.
Gelas kopi makin berkurang, gelas mungkin bocor tapi tak masalah; fokus pikiranku masih tetap terbayang pada sikon tanah air.
Hari makin terang suasana makin ramai. Tanah air ini milik kita. Sesama anak bangsa tak harus saling bunuh, sebaliknya saling menghargai batasan batasan yang telah dibagi sejak masa leluhur dahulu.
Sudah seharusnya kita bergandeng tangan. Satu hati dan satu sikap untuk melawan ketidakadilan dan berjuang untuk mengusir penjajah sama seperti saat belanda masih bercokol dinusantara dan diusir pulang. Kitalah pemenang yang tak pernah berhenti untuk bersuara bagi negeri untuk pembebasan nasional.

Welcome November

Salam Juang | Papua Tetap Merdeka

Oleh: Phaul Heger
05.30
Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Kopi Hitam, Welcome November

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: