Kronologi Penggusuran Paksa Warga Sekitar Cemoro Sewu

 -    Sekitar pukul 06.00 WIB tanggal 14 Desember 2016 aparat keamanan yang terdiri dari Polisi Pamong Praja, Polisi, Tentara, dinas sosial dan pihak PLN telah melaksanakan apel pagi di Pantai Depok, Bantul. Pada waktu yang sama telah berkumpul kawan-kawan yang ikut bersolidaritas sekitar 40-an orang yang terdiri dari para mahasiswa di posko (tempat massa solidaritas berkumpul).

-    Sekitar jam 07.00 wib, kawan-kawan yang bersolidaritas berjalan dari posko  menuju lokasi penggusuran dan terlihat aparat kepolisian telah menutup seluruh akses jalan menuju lokasi penggusuran.
-    Sekitar 07.30 wib, kawan-kawan yang bersolidaritas sampai ke lokasi penggusuran. Di lokasi sudah ada sejumlah wartawan, polisi yang berpakaian preman juga terlihat sepanjang jalan menuju lokasi penggusuran.

-    Jam 08.21 wib, rombongan atau barisan pertama Satpol PP, berjalan dari arah depok menuju lokasi penggusuran.
-    Pada pukul 08.28 wib, beberapa truk pengangkut mobil skavator (barisan kedua) masuk ke lokasi penggusuran.

-    Pada pukul 08.38 wib, sudah terlihat sekitar 700-800 personil gabungan (rombongan ketiga) yang terdiri dari Pol PP, Polri dan TNI dengan peralatan lengkap (pentungan, senjata gas air mata dll) serta disiagakan mobil water canon, pemadam kebakaran bahkan ambulance mengawal ketat proses penggusuran paksa.

-    Jam 08.40 wib skavator diturunkan dari truck pengangkut. Warga miskin yang terdampak di sekitar cemoro sewu terlihat ketakutan disertai kebingungan karena melihat begitu banyak aparatus negara yang dikerahkan untuk melakukan gusuran paksa, Di saat yang bersamaan gerakan solidaritas yang terdiri dari 40 orang juga memulai orasi dalam situasi yang tertekan.

-    Jam 08.50 wib sebelum memulai penggusuran, Komandan Pol-PP, Hermawan menghampiri salah satu warga terdampak dan mengatakan bahwasanya penggusuran akan dimulai, namun begitu dipertanyakan soal kejelasan ganti untung, relokasi oleh warga terdampak tersebut yang merasa bahwa belum ada kejelasan terkait status tanah sekitar cemoro sewu, hanya ditanggapi dengan dingin, dan langsung menjalankan penggusuran ilegal. Massa aksi yang bersolidaritas hanya bisa berpropaganda tentang pelanggaran HAM terkait perampasaan ruang hidup secara sepihak. Di saat yang bersamaan akibat intimidasi yang telah dilakukan beberapa hari sebelumnya dan pada saat di lapangan mengakibatkan traumatik yang mendalam. Namun ada salah satu warga yang memberanikan diri untuk berorasi tentang penindasan yang dilakukan oleh pemerintah dan aparat terhadap rakyat kecil. Dalam orasi tersebut juga disampaikan adanya ketidakjelasan soal realisasi, tempat relokasi dan ganti rugi. Karena sampai saat itu ibu tersebut belum mendapat uang ganti rugi namun rumahnya sudah di gusur. Orasi terus berlanjut sampai pukul 09.20 wib. Ada seorang warga terdampak datang melihat rumahnya yang sudah tergusur. Dia langsung menangis histeris meneriakan kehilangan rumah ibunya dan meneriakan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah. Dalam situasi tersebut, penggusuran tetap dilanjutkan. 

-    Jam 09.38 wib, orasi masi tetap dilanjutkan secara bergantian, salah satu statemen dari masa aksi yang bersolidaritas mengatakan bahwa penggusuran yang dilakukan oleh Pemprov dan Pemkab melalui aparatus negara (satpol PP,Polri,TNI) adalah sepihak dan ilegal karena dilakukan tanpa didahului musyawarah sebagaimana dijanjikan pemprov pada tanggal 16 november 2016 di kantor gubernur. Atas tindakan sepihak itu telah mengorbankan hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupan (pasal 28b ayat (1) uud 1945, hak atas tempat tinggal yang layak (pasal 28H ayat (1) uud 1945, hak milik dan hak atas pekerjaan(pasal 28H ayat (4) uud 1945, sekalipun orasi terus disampaikan namun petugas keamanan terus melakukan penggusuran.
-    Jam 10.05, terlihat beberapa ibu yang menangis histeris ketika melihat rumahnya digusur secara paksa tanpa melakukan apapun. Sementara itu sudah sekitar lima rumah warga yang dirobohkan. Beberapa warga yang lain yang rumahnya belum tergusur terlihat sedang mengeluarkan barang penting dari rumahnya.
-    Jam 10:30, ada seorang anak dari warga terdampak yang masih mengenahkan seragam SD  pulang dari sekolah dan mendapatkan kondisi rumahnya telah tergusur sehingga anak tersebut langsung shock dan menangis serta memeluk ibunya karena tidak tahan melihat kondisi rumahnya yang telah dibohohkan;
-    Jam 11:00, pengusuran paksa masih terus berlangsung dan kondisinya kurang lebih 75% rumah warga telah rata dengan tanah. Warga yang rumahnya telah tergusur hanya bisa mengais sisa reruntuan yang masih bisa dipergunakan dan disaat yang bersamaan terlihat pula beberap kawan-kawan solidaritas prodem yang berdatanggan;

-    Jam 11:30, saat pengusuran paksa mulai berakhir tinggal satu rumah yang akan digusur, solidaritas prodem kemudian memutuskan untuk mengkonsolidasikan seluruh elemen organ yang turut bersolidaritas dalam penggusuran paksa dalam rangka membahas kebutuhan-kebutuhan mendesak  yang  dibutuhkan warga terdampak pasca penggusuran;

-    Jam 12:08, gabungan aparat kemanan meninggalkan tempat penggusuran dan kondisi seluruh rumah warga yang berada disekitar cemoro sewu atau secara umum dikawasan gumuk pasir telah rata dengan tanah. Selanjutnya solidaritas prodem langsung mendirikan posko juang sebagai langkah untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak, juga sebagai wadah berkumpul, konsolidasi untuk memperjuangkan hak-hak warga terdampak yang telah dikorbankan oleh aparat gabungan (pol PP, polisi,TNI) melalui penggusuran paksa pada tanggal 14 Desember 2016;


Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Kronologi Penggusuran Paksa Warga Sekitar Cemoro Sewu

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: