Mengapa fatwa MUI �kandas� di Papua?


Jayapura, Jubi - C.W. Ottow dan J.G. Geissler, dua orang ini dikenal sebagai misionaris yang mengawali misi zending di Tanah Papua. Jika saat ini Tanah Papua didominasi oleh umat Kristiani, Ottow dan Geissler adalah orang yang memulainya.
Namun tahukah anda jika 162 tahun lalu, tepatnya tanggal 30 Mei 1854, C.W. Ottow dan J.G. Geissler mengawali perjalanannya ke Nueva Guinea, sebutan untuk Tanah Papua pada masa itu melalui Ternate? Ya Kesultanan Ternate, satu daerah di Kepulauan Maluku yang didominasi penduduk muslim.

Saat tiba di Ternate Ottow dan Geissler diterima dengan sangat ramah oleh Pendeta J.E.Hoveker dan isteri (yang sejak 1833 sebagai pendeta untuk jemaat protestan di Ternate). keduanya tinggal bersama di rumah keluarga pendeta in. Disana mereka belajar dan memperdalam bahasa melayu serta belajar mengkaji berbagai informasi tentang kondisi Papua.
Saat keduanya siap untuk memulai misi mereka, C. Bosscher, Residen Belanda di Ternate membantu keduanya mendapatkan surat jalan dari Sultan Tidore. Di hadapan Sultan Ternate, Bosscher mengatakan Ottow dan Geissler adalah dua peneliti alam yang berniat melakukan penelitian di Papua. Namun rupanya, Sultan Tidore sudah mengawasi keduanya sejak tiba di Ternate dan tahu jika keduanya akan menjalankan misi zending di Papua. Sultan meminta Bosscher agar tidak mengubah identitas keduanya sebagai misionaris dan memberikan surat jalan pada Ottow dan Geissler.
Tak hanya sekedar memberikan surat jalan, Sultan Tidore yang muslim bahkan memerintahkan para kepala sukunya untuk melindungi dan menolong Ottow dan Geissler jika mereka mengalami masalah selama perjalanan mereka menuju Tanah Papua.
Pada tanggal 12 Januari 1855 keduanya bertolak dari Dermaga Ternate, menumpang Kapal milik Kesultanan Ternate menuju Pulau Mansinam. 25 hari mereka berlayar, hingga pada tanggal 5 Februari kapal ini membuang sauh di depan pulau Mansinam dan misi zending di Tanah Papua dimulai.
Relasi Kristiani dan Muslim di Papua sudah terjalin sejak awal misi zending. Saling memahami dan saling menghargai sudah terbangun sejak saat misi zending dimulai dan tertanam hingga saat ini. Bisa dipahami kemudian, mengapa isu bernuansa agama bisa mempengaruhi masyarakat di tempat lain, tapi tidak di Tanah Papua.
Kapanpun dan dimanapun, di Tanah Papua ini kita masih bisa menyaksikan siapa saja menggunakan, memperdagangkan bahkan memiliki atribut natal. Tak peduli dia seorang Muslim atau Kristen. Sehingga tak berlebihan jika seorang Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua,  Yunus Wonda menegaskan kembali fondasi yang dibangun oleh Ottow, Geissler dan Sultan Tidore 162 tahun lalu melalui pernyataannya, �Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor 56 tahun 2016 tentang Hukum Penggunaan Atribut keagamaan non-Muslim tidak akan berlaku di Papua,�
Agama tak akan berarti tanpa saling menghargai dan memahami!
Selamat Hari Natal, 25 Desember 2016 dan Tahun Baru, 1 Januari 2017!
Sumber: tabloidjubi.com
Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Mengapa fatwa MUI �kandas� di Papua?

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: