Sejarah Penjajahan di Papua Barat

new_guinea_1942-1944 (www.lib.utexas. edu
New Guinea merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland di mana ditempati pertama kali oleh ras Negroid Melanesia Sebelum Kristus lahir dan terpisah dari daratan Australia sejak 5000 tahun yang lalu akibat pencairan es di Kutub, sehingga mereka adalah Penduduk Asli sebagai pemilik pulau ini.
Pribumi dari Melanesia menduduki pulau New Guine sampai di pulau Halmahera dan pulau Aru kemudian setelah Masehi pada abad keempat, Cina adalah Pendatang pertama yang menduduki Papua Barat pada abad keempat (kira Abad ke-4) kemudian diikuti oleh Islam dari Bahgdad, Irak pada tahun 846 ( Abad ke-8) setelah Masehi. Pendatang terakhir adalah dari Belanda dan Inggris termasuk Indonesia sejak abad ke-18 sampai Abad ke-19.

Meskipun Indonesia mengklaim bahwa Kerajaan Majapahit dari Jawa yang didirikan pada Abad ke-12 telah menempati Papua Barat tapi tidak ada jejak dari Majapahit yang dapat kita temukan di Papua Barat, kecuali jejak Cina, Arab, Belanda dan Inggris serta pada saat itu masih dikuasai Kesultanan Tidore yang merupakan keluarga dari Kesultanan Tidore. Bahasa Melayu di Papua Barat berasal dari Kesultanan Tidore dan Kesultanan Bacan, juga datang dari orang-orang Indonesia yang dibawa oleh Belanda kemudian akhirnya masyarakat Papua dapat berbicara Melayu setelah Indonesia menduduki wilayah Papua Barat kemudian memaksa semua orang Papua untuk menghentikan berbicara menggunakan bahasa suku setempat.

Kesultanan Tidore di pulau Halmahera mengklaim bahwa Papua Barat sebagai wilayah mereka di mana itu disebut Uli Siwa yang mencakup Pulau Seram, Pulau Buru, Pulau Halmahera Selatan dan Kepulauan Aru. Tidore hanya mengaku tapi tidak ada Kantor Pemerintah beroperasi di West New Guinea, kecuali Kesultanan Bacan yang menunjuk beberapa masyarakat setempat di pulau-pulau Raja Ampat di Pulau Waigeo, Batanta, Salawati dan Misol. Mereka disebut Papa Uwah atau dalam bahasa Arab yaitu Papua atau Babuu (budak) karena Kesultanan Tidore datang ke West New Guinea hanya untuk menculik anak-anak untuk membuat mereka sebagai budak atau Papua.

Pada tahun 1526 - 1527, Portugis Jorge de Menezes adalah orang Eropa pertama yang menginjakkan kaki di pulau Biak sehingga memberi nama pulau Ilhas dos Papuas atau Pulau Papua. Selanjutnya pada tahun 1528 Hernan Cortez, ia adalah Penakluk Spanyol di Meksiko yang mengirim Alvaro de Saavedra Ceron untuk merilis pos pertahanan Spanyol di Tidore. Dia berhenti dan tinggal di Kampung Samber, Pulau Biak selama satu bulan, dan memberi nama dari bahasa Spanyol Isla de Oro atau Pulau Emas karena melihat banyak emas di pesisir utara pulau Papua Barat. Kemudian pada tahun 1537 Hernan Cortez mengirim Hernan Grijalva untuk mencari pulau Emas yang akhirnya kecelakaan kapal mereka di Pom ANZUS dan diserang di Teluk Saireri oleh Penduduk Asli Papua, mereka ditangkap sehingga diperbudak oleh orang asli Papua. Kasus ini ditebus lebih dari satu tahun oleh Gubernur Portugis di Ternate.

Kedatangan orang Eropa berikutnya pada 24 Juni 1545, yaitu San Juan yang diperintahkan oleh Ynigo Ortiz de Retes, ia adalah kapten Spanyol yang berbasis di Meksiko untuk berlayar di pantai Utara untuk menanam bendera Spanyol di muara sungai Mamberamo dan menyatakan itu adalah daerah kekuasaan Spanyol Raya sehingga memberi nama Nueva Guinea atau New Guinea karena penduduk asli yang mirip dengan penduduk asli Guinea di Benua Afrika. Akhirnya, pulau ini mulai dimasukkan ke dalam Dunia pada 1569 sehingga pada 1581 Migel Rojo de Brito mengunjungi pulau-pulau Raja Ampat, Teluk Bintuni, dan Seram Utara untuk mencari pulau emas itu. Pemetaan pulau Emas menjadi cikal bakal dari penaklukan negara-negara Eropa dan Indonesia.

Akhirnya, pada tahun 1605 Belanda East India Company, VOC mengirim ekspedisi ke pulau Maluku dan Papua. Pada tahun 1623, Jan Cartenz berlayar di sepanjang pantai barat laut dan menemukan sebuah gunung yang tinggi yang ditutupi dengan salju kemudian melaporkan tetapi diejek dan tidak dipercaya oleh orang-orang Eropa.

Tidak ada yang percaya bahwa tidak mungkin ada salju di sekitar garis Khatulistiwa 4 derajat Lintang Selatan. Pada tahun 1660 kesepakatan antara Perusahaan Hindia Belanda, VOC dan Kesultanan Tidore di mana VOC mengakui kedaulatan Kesultanan ke pulau-pulau Papua secara umum, namun dalam hubungan sekutu internal yang melarang semua negara Eropa ke wilayah tersebut, kecuali Belanda. Pada tahun 1678 Kapten Johannes Keyts menggunakan tiga kapal berlayar ke Teluk Arguni Onin untuk mengunjungi dan menanam bendera VOC di Fatagar dan Kilbati. Hal ini jelas bahwa wilayah ini masih dibawah kekuasaan Kesultanan Tidore, bukan Kerajaan Majapahit dari Jawa.
Pulau ini dipisahkan oleh Kolonialis dari Inggris, Jerman dan Belanda menjadi tiga bagian melalui Perjanjian London pada 24 Agustus, 1828. Jerman memberi nama Jerman Nugini, Inggris memberi nama British Papua dan Belanda memberi nama Belanda Nugini. Setelah Perang Dunia satu di 11 November 1918 Inggris mengambil alih wilayah Jerman di Jerman Nugini dan mereka memberikan nama Papua Nugini (Sekarang independen menjadi Papua Nugini tapi masih di bawah Persemakmuran Inggris Territoriy).

Ditulis oleh John Anari


Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Sejarah Penjajahan di Papua Barat

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: