Kehilangan Nurani atas Papua


Manusia adalah makhluk yang bermartabat, moral, teratur, berakhlak budi dan sebagainya. Tidak ada perbedaan melihatnya entah dari perspektif seorang theisme, deisme, maupun atheis. Bagi theisme jelas manusia adalah proyeksi Tuhan dan karena itu mesti punya kasih. Terutama memperlakukan sesamanya seperti kepada diri sendiri dengan rasa hormat tanpa di kurangi sedikit pun. Deisme sendiri walaupun tanpa otoritas relijius meneguhkan sebab akibat. Berlakulah sopan kepada orang lain maka mereka akan menghormati kita. Sedangkan humanisme atheis juga mendeskripsikan bagaimanakah sepantasnya manusia hidup bersama dengan lainnya secara baik. Inilah wajah sering dilihat dalam publik cara sesorang memilih kehidupan. Apapun itu ada nurani yang resapi.

Nurani masa kini telah mengingkari kemanusiaanya. Lebih tepatnya sebuah komoditi. Bagaimana memperdagangkan seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya agar mendapatkan profit. Dengan pelabelan �demi rakyat� seolah-olah menjadi pembenaran tindak tanduk pemegang kekuasaan yang tidak pada tempatnya. Nurani sudah tidak lagi mendeterminasikan manusia. Homo Homini Lupus(manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya).

Kamuflase. Inilah gambaran realitasnya manusia telah menjadi serigala dan berkamuflase. Lihat saja suatu daerah, yang kaya akan kapital sumber daya tetapi tidak adanya fasilitas publik sarana prasarana penunjang kehidupan masyarakat. Khususnya Papua. Pemerintah memang sedang membangun jembatan, membuka jalan trans daerah tetapi yang menjadi pertanyaan adalah kenapa baru sekarang? Tidak kah ada keinginan dari dahulu? Bukankah lebih cepat lebih baik?

Sebagian daripada kebenaran itu hidup dalam realitas sosial. Kita dalam normatif mau mengatakan semua manusia sama adanya. Semua manusia sederajat. Namun realitas sosial menunjukkan kepada kita sendiri, bahwa orang Papua adalah warga negara kelas dua. Impresi dan stigma tidak lepas pada masyarakat Papua. Warga negara lain sebagai sipil menyuarakan aspirasi dalam negara demokrasi ini secara khidmat. Berbeda di dataran Papua, harus ada kematian dahulu untuk terdengar aspirasinya. Jika tidak akan terabaikan. Itulah harga yang harus dibayarkan.

Terutama dalam hal pendidikan. Hakikat pendidikan adalah pendidikan diciptakan untuk melayani kehidupan setiap manusia. Dengan pendidikan manusia memiliki problem solving atas perkaranya. Jembatan untuk kehidupan yang lebih baik. Namun akses untuk mendapatkannya sukar sekali. Biaya pendidikan yang mahal menjadi pembelenggu utama. Sehingga pendidikan hanya menjadi pelayan manusia-manusia kaya.

Begitu pun layanan kesehatan. Minim peralatan, dokter, perawat seakan tidak ada harapan hidup bagi masyarakat pedalaman. Miris, masyarakat pedalaman hanya dijadikan kepentingan eskpos layar kaca televisi nasional untuk menghibur dalam ketelanjangannya. Agar memuaskan hasrat hiburan publik kalau adanya manusia primitif terkesan lucu dan lugu.

Memanglah ini sebagaian saja dibanding berbagai macam aspek. Namun dari opini sederhana ini dapat dilihat aneh sekali jika antara fakta dan realita. Secara logis bagaimanakah mungkin Papua negeri yang kaya sekaligus diliputi kemiskinan. Seumpama ketidakmungkinan satu dengan penambahan satu menjadi tiga (1+1=3). Entah nurani macam apa ini.

Manusia melihara kenikmatan atas penderitaan manusia lain. Dan berkelanjutan terus menerus. Oleh karena itu mari kita yakinkan diri kita, bahwa tidak ada manusia yang miskin tanpa kemiskinan yang disistemasi (dipelihara). Nurani.

Joey Nauw
Repost dari Kompasiana.com

Related : Kehilangan Nurani atas Papua