Pembunuhan Maikel Merani, Diplomasi Nihil Aparat Militer NKRI

PEMBUNUHAN MAIKEL MERANI, DIPLOMASI NIHIL APARAT MILITER NKRI
----------------------------------------------------

Sekali lagi Pemerintah Indonesia lewat Aparat Keamanan Kepolisian Resort KepulauanYapen mengulangi pembunuhan un prosedur terhadap masyrakat Papua.

Maikel Merani selaku anak asli Papua pemilik sah Pulau Yapen West Papua apakah benar adalah seorang kriminal sehingga patut dibunuh.

MM dalam keseharian adalah anak tua dari seorang gembala jemaat, ayahnya seorang pendeta di Kampung halamannya Tindaret, di Distrik Pantai Utara Kabupaten Kepulauan Yapen.
MM tidak pernah terlibat dalam peristiwa huru hara, ataupun rasis, gengster, ataupun tindakan profokatif lainnya.

MM adalah anggota aktif WPNA ketika itu, selanjutnya NFRPB dan saat ini telah bernaung dibawah lembaga koordinatif ULMWP, yang secara hukum diakui dan memiliki status yg sama dengan Indonesia dalam Badan Dunia di Kawasan Pasifik yakni Melanesian Spearhead Group (MSG).
Diakui MM memang pernah terlibat bersama Almarhum Rudy Orarei dalam pembunuhan dan perampasan senjata milik alm. Polisi Ayomi beberapa tahun yg lalu, namun kemudian senjata dimaksud telah dibawah kembali oleh aparat kepolisian Yapen ketika Rudy Orarei dibunuh ketika itu.
MM saat ini telah kembali kekeluarganya dan beraktivitas sebagai masyarakat normal.
Pertanyaannya mengapa MM dibunuh oleh Aparat Kepolisian Yapen?.

Pasca Pilkada Bupati Kab. Kep.Yapen yang belum jelas hasilnya ini membuat para kontestan dan pihak2 yang berkepentingan berupaya dengan segala cara untuk mencapai maksud dan tujuannya.
Dari kesaksian beberapa orang dekat mengatakan bahwa MM memilih mendukung salah satu kandidat anak Papua yg maju dalam pilkada Yapen sehingga ketika kandidat yang berkuasa tidak mendapatkan hasil yang maksimal kemudian MM di kambing hitamkan sebagai biang dari kegagalan yang bersangkutan, itu sebabnya harus dihabisi.

Hal yang lain sebenarnya ini adalah upaya pengalihan issue agar pilkada Yapen ada dalam situasi Darurat yang mana memungkinkan pihak2 terkait yang berkepntingan demi kondisi keamanan yg kondusif agar dapat secra mutlak mengambil kebijakan untuk menentukan dan menetapkan siapa kandidat bupati yang diinginkan.

Kemudian hal yang tidak lazim yakni politisasi anggaran bagi aparat agar ada budget yang maksimal untuk membiayai sejumalah program operasinya dilapangan.
Pertanyaannya apakah kebijakan pembunuhan ini tepat dilakukan?.

Menurut hemat saya pembunuhan terhadap MM justru akan menjawab pertanyaan masyarakat Internasional bahwa proses genosida di WP telah dalam kondisi masif dan perlu kebijakan internasional yang konkret berupa intervensi berbagai lembaga dunia lainnya utk masuk ke WP.
Opini pelapor khusus PBB yang datang untk mengamati situasi kesehatan di WP pun akan menjadikan kasus ini bagian khusus dalam catatannya.

Pengalaman yang lalu kasus pembunuhan Alm. Erik Manitori dan kawan-kawan di Manawi dan Kontiunai, tempat yang sama dimana MM saat ini di tembak mati, telah menjadi energi kuat untuk ULMWP masuk sebagai anggota negara-negara Melanesia di MSG.

Keyakinan saya bahwa dengan di tembak matinya MM, demi kemanusiaan, akan menjadi pemicu untuk dukungan koalisi negara - negara kulit hitam yakni Afrika, Karibia dan Pasifik untuk memuluskan jalan WP didaftarkan ke Komisi Dekolonisasi di Perserikatan Bangsa Bangsa tahun 2017.

Itu sebabnya bagi saya terkait dengan kasus MM harusnya aparat kepolisian lebih persuasif dan prosedural dalan penangannya. Pendekatan dan diplomasi lewat metode kekerasan justru hasilnya nihil untuk penghargaan terhdap nilai nilai demokrasi dan ham, efeknya juga pasti pemerintah NKRI disudutkan untuk wajah kebijakan hukum dan kemanusiaannya yang suram.

Demikian opini singkat ini, semoga ada damai di hati kita semua.
Heppy Daimboa
***
Kalau suka, tolong klik "like/suka" di bawah ini:

Related : Pembunuhan Maikel Merani, Diplomasi Nihil Aparat Militer NKRI

Kunjungi dan follow juga link dibawah ini: